BERANI MENJADI MODEL
Bacaan Setahun:
Yosua 15:1 – 16:10
Yohanes 1:1–28
Mazmur 53:1–6
“Dan kamu telah menjadi penurut kami dan penurut Tuhan; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus, sehingga kamu telah menjadi teladan untuk semua orang yang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya.” (1 Tesalonika 1:6-7)
Di mana pun Anda berada saat ini, tentu tidak asing dengan figur publik yang dijadikan model kehidupan, bahkan teladan oleh sebagian orang karena keberhasilan mereka dalam karier maupun bisnis. Bukan hanya artis, pemuka agama dari berbagai latar belakang pun sering menjadi panutan. Mereka dipuji, dan apa pun yang mereka lakukan kerap dianggap benar serta layak diteladani.
Jika Anda berjemaat di suatu gereja lokal, pasti ada saja hamba Tuhan yang menjadi model bagi jemaatnya, sehingga jika hamba Tuhan tersebut berkhotbah, banyak yang datang untuk mendengarkan khotbahnya. Jika memang kehidupan hamba Tuhan tersebut bisa disaksikan dan dilihat secara nyata dalam segala aspek kehidupannya, hidup benar dan melakukan kebenaran firman Tuhan, maka beliau memang patut diteladani. Tetapi bagaimana jika sebaliknya? Beliau hanya bisa berkhotbah di mimbar, tetapi tidak melakukan kebenaran firman Tuhan, bukankah itu seperti pepatah “gajah diblangkoni, iso khotbah ora iso nglakoni” (cakap dalam khotbah, tapi tidak melakukan isi khotbahnya dengan benar).
Dalam Alkitab terdapat seorang tokoh yang menjadi teladan bagi jemaatnya, yaitu Rasul Paulus. 1 Tesalonika 1:6-7 menunjukkan bahwa Paulus telah menjadi teladan bagi jemaat di Tesalonika, sehingga mereka pun menjadi teladan bagi semua orang percaya di wilayah Makedonia dan Akhaya. Dalam Filipi 3:17 tertulis, “Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu.” Paulus bahkan berani berkata demikian kepada jemaat Filipi. Tentu hal itu bukan perkara mudah, sebab menjadi teladan berarti memikul tanggung jawab besar untuk hidup benar sesuai firman Allah. Setiap perkataan dan perbuatannya harus dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Bagaimana hal itu dapat dilakukan Paulus? Ia pernah menjadi penganiaya orang-orang percaya, bahkan terlibat dalam tindakan kekerasan. Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, hidupnya diubahkan dan ia menjadi rasul Kristus yang setia. Bagaimana dengan kita? Beranikah kita menjadi teladan bagi keluarga sendiri? Apakah perbuatan kita layak ditiru oleh anak, pasangan, cucu, dan saudara-saudara kita? Beranikah kita berkata, “Ikutilah teladanku”? Marilah kita mulai menjadi teladan dalam komunitas terkecil, yaitu keluarga. Dari sana, kita dapat bertumbuh menjadi teladan bagi komunitas yang lebih luas dan bagi sesama orang percaya. Amin. (AU)
Questions:
1. Bagaimana Anda bisa menjadi model dalam kebenaran Tuhan?
2. Mengapa Orang percaya harus menjadi model teladan bagi orang lain dalam kebenaran firman Tuhan?
Values:
Pengaruh terbesar seorang percaya bukan pada popularitasnya, melainkan pada kesesuaian hidupnya dengan firman Tuhan.
Kingdom Quotes:
Teladan sejati tidak lahir dari mimbar, tetapi dari kehidupan yang selaras dengan firman.