RASA TAKUT YANG SEHAT
Bacaan Setahun:
Hakim-hakim 9:1–57
Yohanes 6:1–24
Mazmur 58:1–11
”Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi.” (Amsal 29:25 – TB)
Benarkah ada orang yang tidak pernah merasa takut? Rasa takut hampir pasti hadir dalam kehidupan setiap orang, baik itu takut akan kemiskinan, takut tidak mendapatkan pasangan hidup, maupun takut menghadapi kematian. Ketakutan-ketakutan tersebut sering memengaruhi cara kita bertindak. Bahkan, ketakutan terhadap pandangan negatif orang lain dapat membuat kita tidak berkembang.
Tuhan pernah mengingatkan bangsa Israel pada masa lampau bahwa kekhawatiran terhadap apa yang dipikirkan orang-orang di sekitar mereka dapat membawa pada kejatuhan (Yesaya 51:7–16). Dalam Yesaya 51:7 tertulis: “Dengarkanlah Aku, hai kamu yang mengetahui apa yang benar, hai bangsa yang menyimpan pengajaran-Ku dalam hatimu! Janganlah takut jika diaibkan oleh manusia dan janganlah terkejut jika dinista oleh mereka.” Perhatian yang berlebihan terhadap perkataan orang lain membuat mereka akhirnya berkompromi (ayat 13): “Sehingga engkau melupakan TUHAN yang menjadikan engkau, yang membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, sehingga engkau terus gentar sepanjang hari terhadap kepanasan amarah orang penganiaya, apabila ia bersiap-siap memusnahkan. Di manakah gerangan kepanasan amarah orang penganiaya itu?” Padahal, mereka dipanggil untuk memercayai Tuhan dan hidup berkenan kepada-Nya.
Nasihat ini juga relevan bagi kita saat ini, karena “takut akan manusia” merupakan jerat bagi banyak orang Kristen. Akan jauh lebih baik jika kita memperoleh kepuasan dari melakukan hal-hal yang menyenangkan Allah. Rasa takut yang tidak tepat, yaitu takut terhadap penilaian manusia, dapat diubahkan menjadi keyakinan yang benar melalui rasa takut yang sehat kepada Allah (ayat 16): “Aku menaruh firman-Ku ke dalam mulutmu dan menyembunyikan engkau dalam naungan tangan-Ku, supaya Aku kembali membentangkan langit dan meletakkan dasar bumi, dan berkata kepada Sion: Engkau adalah umat-Ku!”
Takut akan Allah membebaskan kita dari rasa takut terhadap pandangan manusia. Ketika Tuhan berkata, “Engkau adalah umat-Ku,” kita diingatkan akan identitas kita sebagai milik Nya. Rasa takut yang benar kepada Allah menghasilkan sikap hormat yang membawa kita hidup berkenan kepada-Nya. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa sebesar apa pun kuasa seseorang atau suatu pemerintahan, semuanya tetap berada di bawah kedaulatan dan kendali Allah. Pada akhirnya, setiap orang akan menghadapi penghakiman dari Allah. Oleh karena itu, kita harus lebih takut kepada Allah daripada kepada manusia. (AU)
Questions:
1. Apakah Anda lebih takut pada penilaian manusia daripada kehendak Allah?
2. Dalam situasi apa Anda perlu belajar lebih percaya kepada Tuhan daripada mengikuti ketakutan Anda?
Values:
Belajarlah menempatkan takut akan Allah sebagai prioritas, sehingga keputusan yang diambil tidak dikendalikan oleh opini manusia, melainkan oleh kebenaran firman Tuhan.
Kingdom Quotes:
Ketika kita takut akan Allah, kita dibebaskan dari ketakutan akan manusia.