Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, serta yang gemuk dan kuat akan Kuawasi. Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya” (Yehezkiel 34:16 – TB2)
THE SHEPHERD KING berbicara tentang Yesus sebagai Raja Gembala yang sejati — Tuhan yang bukan hanya memerintah, tetapi juga menjaga, melindungi, memulihkan, dan memimpin umat-Nya dengan kasih. Arti Imanuel, yaitu “Tuhan beserta kita.” Tuhan bukan hanya hadir saat Natal atau saat manusia mengalami kematian, tetapi menyertai umat-Nya sepanjang hidup, terutama di tengah peperangan, kesulitan, dan ketakutan. Dunia saat ini dipenuhi isu mental health, kekhawatiran, dan kecemasan, tetapi hanya Tuhan yang mampu memberi ketenangan sejati dan menyediakan “rest” atau perhentian bagi jiwa yang lelah. Seperti dalam Mazmur 23, sekalipun berjalan dalam lembah kekelaman, Tuhan tetap menyediakan hidangan dan perlindungan bagi umat-Nya.
Nubuat dalam Kitab Mikha 5:1-8 menunjukkan bahwa dari kota kecil Betlehem akan lahir seorang pemimpin yang menggembalakan Israel. Ini berbicara tentang Yesus Kristus yang sudah ada sejak kekekalan. Karena itu, Yesus bukan sekadar manusia biasa; Dia adalah Firman Allah yang sudah ada sebelum dunia dijadikan. Dari Betlehem lahirlah dua gambaran gembala besar: Raja Daud dan Yesus Kristus, Sang Gembala Agung. Berbeda dengan raja-raja dunia yang sering menindas rakyatnya, Yesus datang sebagai Raja yang melindungi, merawat, mencari yang hilang, menyembuhkan yang terluka, dan memberikan damai sejahtera sejati.
Contoh nyata tentang “Shepherd King” terlihat dalam kehidupan Raja Daud. Daud dipilih Tuhan dari padang penggembalaan untuk menjadi raja. Ia memimpin dengan ketulusan hati dan kecakapan tangan (Mazmur 78:67-72). Daud menjadi gambaran tentang Yesus yang menggembalakan umat dengan kasih, bukan dengan kekerasan.
Di dalam ayat 5-6 dituliskan bahwa Tuhan akan membangkitkan “tujuh gembala dan delapan pemimpin kerajaan,” yaitu orang-orang percaya yang dipanggil menjadi pemimpin rohani di tengah dunia yang gelap. Tugas mereka adalah melawan “Asyur” dan “Nimrod,” gambaran dari kuasa kegelapan, sistem dunia, dan pemberontakan terhadap Tuhan. Setiap orang percaya dipanggil menjadi pemimpin dan pembawa damai. Gereja tidak hanya dipanggil menghasilkan penyanyi atau pemain musik, tetapi membangkitkan pemimpin kerajaan Allah yang berani menghadapi zaman yang semakin jahat. Senjata utama orang percaya bukan kekuatan manusia, melainkan firman Tuhan yang diibaratkan pedang.
Yesus sebagai The True Shepherd King — Raja yang menggembalakan umat-Nya dengan kasih, kuasa, dan kesetiaan. Banyak pemimpin atau gembala di dunia mungkin memakai cara-cara manusiawi atau manipulatif, tetapi Yesus melayani dengan ketulusan dan kasih yang murni. Gembala sejati bukan mencari keuntungan dari domba, melainkan rela berkorban demi keselamatan domba-dombanya. Yesus rela memberikan nyawa bagi domba-domba-Nya. Dalam Injil Yohanes pasal 10, Yesus berkata bahwa: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Salib adalah bukti terbesar kasih Sang Gembala Agung kepada umat manusia.
Dalam Kitab Yehezkiel 34, juga terdapat teguran keras bagi gembala-gembala yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Tuhan berkata bahwa Dia sendiri akan menggembalakan domba-domba-Nya: mencari yang hilang, memulihkan yang tersesat, menyembuhkan yang luka, dan menjaga yang lemah agar tidak ditindas.
Dari Injil Markus pasal 5, melalui pelayanan Tuhan Yesus kita bisa sama-sama belajar ada 3 tugas utama seorang Gembala yaitu:
Pertama, Yesus mencari yang hilang. Yesus menyeberangi Danau Galilea hanya untuk menemui seorang yang kerasukan setan di daerah Gadara. Orang itu hidup di kuburan dan tidak ada yang mampu menolongnya. Namun Yesus datang mencari dan membebaskannya. Ini menggambarkan kasih Tuhan yang tidak menyerah terhadap manusia yang hancur dan terikat dosa.
Kedua, Yesus menyembuhkan yang sakit. Seorang perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun datang menjamah jubah Yesus dengan iman. Semua hartanya sudah habis untuk berobat, tetapi tidak sembuh. Ketika ia datang kepada Yesus, ia dipulihkan sepenuhnya. Pesannya jelas: Yesus peduli terhadap luka dan penderitaan manusia.
Ketiga, Yesus membangkitkan yang mati. Anak perempuan Yairus yang sudah meninggal dibangkitkan kembali oleh Yesus. Saat semua orang berkata “sudah terlambat,” Yesus berkata, “Jangan takut, percaya saja.” Sebab ketidakpercayaan adalah dosa karena Tuhan sanggup melakukan hal yang mustahil.
Dunia boleh semakin gelap, tetapi orang percaya dipanggil menjadi embun yang menyegarkan dan membawa damai. Mengasihi Tuhan tidak hanya lewat ibadah, tetapi juga lewat tindakan nyata merawat “domba-domba kecil” di sekitar kita. Karena itu setiap orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kebenaran, percaya kepada Tuhan, dan menggembalakan orang lain dengan kasih seperti Kristus telah menggembalakan kita. Amin. (RCH).