REVELATION – MASIHKAH ALLAH BERBICARA?
Bacaan Setahun:
2Samuel 5:6 – 6:23
Kisah Para Rasul 1:23 – 2:21
Mazmur 69:29–36
“dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus” (Efesus 1:17-18)
Revelation atau pewahyuan adalah penyingkapan sesuatu yang tersembunyi—sesuatu yang tidak bisa dijangkau hanya dengan logika manusia. Ia bukan hasil kecerdasan, melainkan terang dari Tuhan. Karena itu, untuk memahaminya, kita tidak cukup hanya mengandalkan pikiran, tetapi membutuhkan kepekaan “mata hati”.
Kisah Yusuf dalam Kejadian 41:15–16 memberi gambaran yang jelas. Ketika Firaun meminta penjelasan atas mimpinya, Yusuf menjawab dengan rendah hati, “Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah…” Ia sadar bahwa sumber pewahyuan bukan dirinya. Di sinilah kita belajar bahwa manusia bukanlah sumber wahyu, melainkan hanya wadahnya.
Menariknya, jika kita melihat kehidupan para penerima wahyu seperti Yusuf, Daniel, Rasul Paulus, dan Yohanes, kita menemukan pola yang sama. Mereka bukan hidup dalam kenyamanan, melainkan dalam tekanan. Yusuf di penjara Mesir, Daniel di pembuangan Babel, Paulus di penjara Roma, dan Yohanes di pengasingan Patmos. Dari kehidupan mereka kita belajar bahwa pewahyuan sering kali lahir bukan di tengah kemudahan, tetapi di tengah kesendirian, tekanan, dan ketaatan yang diuji.
Apakah ini berarti kita tidak mungkin mengalami pewahyuan? Kita perlu membedakan bahwa wahyu yang menambah Kitab Suci memang telah selesai. Namun, pewahyuan dalam arti Tuhan membuka pengertian kita untuk mengenal Dia, itu masih terus berlangsung. Rasul Paulus bahkan berdoa supaya jemaat di Efesus menerima roh hikmat dan wahyu, agar mata hati mereka diterangi (Efesus 1:16–18). Artinya, setiap orang percaya memiliki kesempatan untuk mengalami pewahyuan pribadi—bukan untuk menjadi spektakuler, tetapi untuk semakin mengenal Tuhan dengan benar.
Masalahnya bukan pada apakah Tuhan masih berbicara, tetapi apakah hati kita masih peka. Pewahyuan tidak diberikan kepada mereka yang merasa sudah tahu, tetapi kepada mereka yang rendah hati, taat, dan rindu akan hadirat Tuhan. Karena itu, jangan hanya mencari jawaban dari Tuhan, tetapi carilah hati yang siap menerima suara-Nya. Saat mata hati diterangi, kita melihat persoalan dengan cara pandang surga. Di sanalah pewahyuan bekerja—bukan sekadar memberi informasi, tetapi mentransformasi kehidupan. Orang yang hidup dalam terang pewahyuan tidak hanya mengenal firman, tetapi hidup dipimpin oleh firman itu setiap hari. (DD)
Questions:
1. Apakah Anda masih mengandalkan logika sendiri, atau sudah melatih kepekaan “mata hati” di hadapan Tuhan?
2. Bagaimana respons Anda saat berada dalam tekanan—menjauh dari Tuhan, atau justru semakin peka mendengar suara-Nya?
Values:
Jika kita hidup dekat dengan Tuhan, taat, dan melatih kepekaan roh, kita pun dapat mengalami pewahyuan—bukan sekadar mengetahui sesuatu, tetapi sungguh mengenal Dia.
Kingdom Quotes:
Allah tidak pernah berhenti berbicara. Namun, hanya hati yang peka dan rendah yang mampu menangkap suara-Nya.