MAAF, SAYA TIDAK PUNYA WAKTU

MAAF, SAYA TIDAK PUNYA WAKTU 

Bacaan Setahun:
2Samuel 15:13 – 16:14
Kisah Para Rasul 6:1 – 7:19
Mazmur 71:19–24

“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.” (Pengkhotbah 3:1, 11 – TB)

Ungkapan-ungkapan seperti ini sering kita ucapkan ketika merasa kekurangan waktu. “Maaf, saya tidak punya waktu. “Wah, sudah tidak ada waktu lagi.” “Waktunya sudah habis.” “Mana ada waktu lagi?” “Cepat, jangan buang waktu!” Memang, waktu adalah sesuatu yang unik. Kita tidak dapat membeli, meminjam, menyewa, atau menyimpan waktu. Kita juga tidak dapat meminta tambahan waktu. Setiap orang diberi jatah yang sama, yaitu dua puluh empat jam sehari—tidak pernah lebih dan tidak pernah kurang.

Sesungguhnya persoalannya bukan terletak pada kurangnya waktu, melainkan pada cara kita mengatur dan menggunakannya. Cara kita memperlakukan waktu bergantung pada cara pandang kita terhadap waktu itu sendiri. Apakah kita memandang waktu sebagai sesuatu yang berharga sehingga digunakan sebaik-baiknya, atau justru sebagai sesuatu yang biasa sehingga disia-siakan? Kepribadian dan budaya turut memengaruhi bagaimana kita memahami waktu.

Alkitab berbicara tentang waktu dengan beberapa pengertian. Dalam Perjanjian Baru, dikenal dua konsep penting, yaitu kronos dan kairosKronos menunjuk pada waktu sebagai urutan peristiwa yang berjalan secara kronologis. Dari istilah inilah kita mengenal kata kronologi. Sementara itu, kairos menunjuk pada waktu sebagai kesempatan, musim, saat yang tepat, atau momen yang ditentukan. Apa pun istilahnya, Alkitab memandang waktu sebagai milik Tuhan. Waktu adalah anugerah, bukan hak yang kita miliki. Karena itu, cara kita menggunakan waktu menjadi hal yang sangat penting.

Kolose 4:5 berkata, “Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.” Efesus 5:15 menasihatkan, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” Mazmur 90:12 berdoa, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ketiga ayat ini menekankan pentingnya menggunakan waktu secara bijaksana, cermat, berdaya guna, dan tepat guna. Ini juga mencakup hidup yang seimbang dan utuh, misalnya menempatkan waktu bekerja dan beristirahat secara benar. Hikmat bukan hanya soal bekerja lebih banyak, tetapi tahu kapan bertindak, kapan berhenti, dan kapan memberi ruang bagi Tuhan bekerja.

Pada akhirnya, rasa aman dalam hidup seseorang sangat berkaitan dengan seberapa banyak waktu dan perhatian yang ia berikan kepada Allah dan firman-Nya. Kedengarannya sederhana, tetapi inilah kebenaran. Waktu yang dipakai untuk Tuhan tidak pernah terbuang; justru di sanalah hidup diarahkan, hati diteguhkan, dan langkah dipenuhi hikmat. (AU)

Questions:
1. Apakah Anda sudah menggunakan waktu sebagai anugerah Tuhan dengan bijaksana?
2. Berapa banyak waktu yang sungguh Anda berikan bagi Tuhan dan firman-Nya setiap hari?

Values:
Waktu adalah anugerah yang harus dikelola dengan hikmat, karena cara kita menggunakan waktu mencerminkan prioritas dan kedewasaan rohani kita.

Kingdom Quotes:
Waktu bukan untuk dihabiskan, tetapi untuk dikelola bagi tujuan yang memuliakan Tuhan.