GAIRAH CINTA: JANGAN SAMPAI PADAM

GAIRAH CINTA: JANGAN SAMPAI PADAM 

Bacaan setahun: 
2 Samuel 16:15 – 18:18
Kisah Para Rasul 7:20–43
Mazmur 72:1–20

“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” (Mazmur 42:2–3)

Ada satu bahaya yang sering tidak disadari dalam kehidupan rohani: kita masih berjalan bersama Tuhan, tetapi tanpa rasa. Kita masih beribadah, tetapi hati tidak lagi terbakar. Kita masih berdoa, tetapi jiwa tidak lagi haus. Tanpa sadar, relasi yang seharusnya hidup berubah menjadi rutinitas yang kering. Padahal, sejak awal, hubungan dengan Tuhan tidak pernah dimaksudkan menjadi sekadar kewajiban. Tuhan tidak mencari aktivitas kita, Dia menginginkan hati kita. Daud memahami ini dengan sangat dalam, la tidak berkata, “Aku setia beribadah kepada-Mu,” tetapi ia berkata, “Jiwaku haus kepada-Mu.” Ada kerinduan, ada gairah, ada dorongan yang tidak bisa digantikan oleh apa pun di dunia ini.

Masalahnya, seiring waktu, banyak orang kehilangan api itu. Bukan karena Tuhan menjauh, tetapi karena hati yang mulai terbagi. Dunia menawarkan begitu banyak distraksi kesibukan, ambisi, kenyamanan yang perlahan menggeser posisi Tuhan dari pusat menjadi pelengkap. Akibatnya, cinta yang dulu menyala kini hanya tersisa bara. Padahal cinta sejati, seperti yang ditulis dalam Kidung Agung, adalah nyala api Tuhan-api yang seharusnya tidak mudah padam. Cinta bukan hanya keputusan, tetapi juga harus dipelihara dengan kesadaran. Jika tidak dijaga, ia akan menurun. Jika tidak dihidupkan, ia akan dingin.

Itulah sebabnya Tuhan menegur jemaat dalam Wahyu: mereka tidak kehilangan pelayanan, tetapi mereka kehilangan kasih mula-mula. Ini peringatan yang keras sekaligus jujur, Kita bisa tetap aktif secara rohani, tetapi kosong secara kasih. Kahar baiknya, api itu tidak hilang-hanya perlu dinyalakan kembali. Saat kita kembali mendekat kepada Tuhan, sumber kasih itu sendiri, maka hati kita akan dipulihkan. Karena Allah adalah kasih, dan siapa tinggal di dalam Dia, akan terus diperbarui di dalam kasih.

Kasih mula-mula dipulihkan bukan terutama dengan melakukan lebih banyak kegiatan rohani, melainkan dengan kembali membangun keintiman dengan Tuhan. Meluangkan waktu dalam doa, merenungkan firman, menyembah dengan hati yang sungguh, dan belajar peka terhadap suara-Nya adalah cara api itu kembali menyala. Ketika kasih kepada Tuhan menyala kembali, ketaatan tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sukacita. Pelayanan tidak lagi. menjadi kewajiban, tetapi luapan cinta. Bahkan di tengah tekanan hidup, hati tetap memiliki gairah karena sumbernya bukan keadaan, melainkan Tuhan sendiri, Orang yang mengasihi Tuhan dengan sungguh akan tetap haus mencari-Nya, bahkan ketika dunia menawarkan banyak pengganti. (DD)

Questions:
1. Apakah hubungan Anda dengan Tuhan masih dipenuhi kerinduan, atau sudah berubah menjadi rutinitas tanpa rasa?
2. Apa yang selama ini diam-diam menggeser Tuhan dari pusat hati Anda?

Values:
Cinta kepada Tuhan tidak boleh dibiarkan berjalan otomatis. Ia harus dijaga, dipelihara, dan terus dinyalakan.

Kingdom Quotes:
Kembalilah kepada sumber kasih itu, dan biarkan Tuhan mengobarkan kembali gairah yang sudah mulai redup. Karena relasi yang hidup dengan Tuhan selalu ditandai oleh hati yang terus rindu dan menyala.