KARYA SALIB: RENCANA IMPULSIF ATAU STRATEGIS?
Bacaan Setahun:
1 Raja Raja 1:1-2:12
Кisah para Rasul 10:23-48:11:1-18
Mazmur 74:10-17
“Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.” ( Efesus 1:7-8)
Ada kisah tentang dua anak SMP yang melihat seorang pria tua meminta-minta di perempatan sebuah kota. Anak pertama melihat pria tua itu berpakaian kotor dan sobek, wajahnya suram, tubuhnya lemah. Seketika timbul belas kasihan dalam hatinya. la berpikir, “Aku masih punya sisa roti bekal dan uang saku Rp5.000. Ini akan kuberikan kepadanya. Kasihan dia.” Setelah memberi, anak itu segera pergi dengan hati yang merasa telah melakukan sesuatu yang berarti.
Sementara itu, ada seorang anak SMP lain yang juga melihat pria tua tersebut. Di hatinya muncul rasa iba la berhenti sejenak dan berbincang dengan orang tua itu. Dari percakapan itu, ia mengetahui bahwa pria tersebut tinggal seorang diri di kawasan kumuh, tidak ada yang mengurus, dan sedang mengalami gangguan kesehatan yang belum dapat diobati karena tidak memiliki biaya. Anak ini juga memberikan sedikit uang yang ia punya, tetapi ia sadar itu tidak cukup. la melihat ada kebutuhan lain yang lebih mendesak. Berdasarkan informasi yang pernah ia ketahui melalui media sosial, ia berusaha menghubungi lembaga Dinas Sosial. Melalui upayanya, pria tua itu akhirnya ditampung di tempat yang lebih layak, memperoleh makanan yang cukup, dan mendapat layanan kesehatan.
Kedua anak SMP ini melakukan tindakan kasih yang sama-sama dimulai dari sikap berbelaskasihan, tapi alih-alih berespons impulsive, atau hanya bergerak karena dorongan. sesaat, anak yang kedua justru berpikir lebih kompleks agar dapat menolong lebih baik, lebih menyeluruh. Sadarkah kita bahwa karya kasih dan pengorbanan Kristus bukan sekedar “proyek kasih yang impulsive” atau dorongan emosional sesaat? Firman Tuhan yang kita baca menggambarkan bahwa hal ini dilakukan dengan melibatkan seluruh hikmat dan pengertian yang mendalam.
Dalam kitab Efesus, Paulus menggunakan terminologi kerajaan, yang menggambarkan bahwa karya keselamatan bukan sekedar misi sosial, tetapi misi kasih dan misi Kerajaan yang mengalahkan penguasa Iblis dan merebut kita yang ditawan oleh kuasa/perbudakan dosa, Itu sebabnya respons yang terbaik bukan sekedar menyesal atas dosa dan bersyukur atas karya salib-Nya, melainkan juga menuntut sikap pertobatan dan penyerahan diri penuh kepada Sang Raja dan kehendak-Nya. (HA)
Questions:
1. Apakah respons Anda terhadap kasih Kristus sudah berupa penyerahan diri yang penuh kepada kehendak-Nya?
2. Ketika menolong atau mengasihi, apakah Anda bertindak hanya secara spontan atau dengan hikmat yang membawa pemulihan lebih utuh?
Values:
Kasih sejati tidak berhenti pada belas kasihan sesaat, tetapi bergerak dengan hikmat, pengorbanan, dan tujuan yang memulihkan secara menyeluruh.
Kingdom Quotes:
Misi kasih Allah adalah misi kasih yang berkerajaan bukan sekedar misi sosial.