PEMBAPAKAN: BISA DIPELAJARI ATAU HARUS DIALAMI?
Bacaan Setahun:
1 Raja Raja 3:16 – 5:18
Kisah Para Rasul 12:19–25; 13:1–12
Mazmur 74:18–23
“Diaken haruslah suami dari satu isteri dan mengurus anak-anaknya dan keluarganya dengan baik.” (1 Timotius 3:12)
Beberapa puluh tahun terakhir, istilah fathering atau pembapakan makin makin sering terdengar di gereja. Buku-buku tentang “Bapa rohani”, seminar “Hati Bapa”, sampai pelatihan kepemimpinan model kebapaan bermunculan. Intinya sama: pria diajar untuk jadi figur yang mengayomi, melindungi, memberi nilai, dan jadi teladan baik di rumah, gereja, maupun tempat kerja. Pertanyaannya: Apakah jadi Bapa yang baik bisa cukup dipelajari lewat seminar? Atau harus dialami dan dihidupi?
Realitanya, banyak pria kesulitan menjadi Bapa yang sehat karena mereka sendiri tidak pernah mengalami figur ayah yang sehat. Ada yang tumbuh tanpa ayah. Ada yang ayahnya hadir secara fisik tapi tidak emosional. Ada juga yang dibesarkan terlalu dimanja tanpa disiplin dan tanggung jawab. Pola itu sering terbawa sampai dewasa – tanpa sadar.
Karakter seorang Bapa bukan cuma soal teori, tapi soal pola yang tertanam di bawah sadar sejak kecil. Kalau yang tertanam adalah ketidakhadiran, kekerasan, atau permisit, maka itu yang mudah direplikasi. Itulah mengapa pembapakan paling kuat sebenarnya bukan di seminar, tapi di praktik harian. Saat seorang pria benar-benar hadir untuk anaknya main bersama mereka, mendisiplin dengan kasih, mendengar cerita mereka, mendoakan mereka -di situlah nilai ditransfer. Anak yang merasakan cinta dan ketegasan ayahnya akan lebih mudah menjadi ayah yang sehat di generasi berikutnya. Sebaliknya, kita sering melihat pola “broken home” berulang. Bukan karena anak itu ingin gagal, tapi karena yang tertanam dalam memorinya adalah model relasi yang rusak.
Namun di sinilah kabar baiknya: pola bisa diputus. Seminar mungkin tidak otomatis mengubah seseorang. Tapi ia bisa menjadi trigger titik sadar. Yang menentukan adalah keputusan pribadi untuk memproses luka, belajar ulang, dan membangun pola baru. Karena menjadi bapa bukan soal status biologis. Menjadi bapa adalah soal tanggung jawab, kedewasaan, dan konsistensi.
Menariknya, kita juga bisa melihat fakta: Ada orang yang bukan Kristen, tak pernah ikut seminar fathering, tapi dikenal sebagai ayah yang penuh kasih dan bertanggung jawab. Sebaliknya, ada pemimpin Kristen yang mengajar tentang kebapakan, tetapi keluarganya sendiri berantakan. Artinya jelas: Fathering bukan soal branding rohani Fathering adalah soal integritas hidup. Karena generasi yang kuat lahir dari ayah yang hadir. Dan ayah yang hadir lahir dari pria yang berani berkorban dan bertanggung jawab. (DD)
Questions:
1. Apakah pola yang Anda hidupi hari ini adalah hasil luka masa lalu yang belum Anda selesaikan?
2. Jika anak Anda meniru cara Anda hidup hari ini, apakah Anda bangga atau justru khawatir dengan masa depan mereka?
Values:
Pembapakan bukan sekadar konsep rohani atau materi seminar. Ia adalah gaya hidup yang dibentuk oleh kesadaran, diproses melalui kedewasaan, dan dibuktikan lewat konsistensi.
Kingdom Quotes:
Menjadi bapa yang baik bukan soal sempurna, tetapi soal hadir. Hadir secara fisik, emosional, spiritual, dan kehadiran yang konsisten itulah yang akan mengubah generasi.