KOMUNITAS EKSKLUSIF ATAU INKLUSIF?
Bacaan Setahun:
1Raja-raja 6:1 – 7:22
Kisah Para Rasul 13:13–41
Mazmur 75:1–10
“Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” (Efesus 2:19)
Firman Tuhan yang kita baca hari ini adalah sebuah pesan Tuhan yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat Efesus. Secara umum Efesus adalah kota perdagangan yang sangat strategis. Daerah Efesus (sekarang daerah Turki) adalah kawasan yang menjadi persimpangan benua Asia dan Eropa. Sebagai kota perdagangan yang sangat strategis maka penduduk Efesus adalah penduduk yang heterogen, dengan tiga kelompok besar, yaitu orang Romawi, Yahudi, dan juga Yunani.
Dalam masyarakat yang beragam ini, jemaat Kristen di Efesus pun tidak luput dari konflik internal, khususnya antara orang percaya dari latar belakang Yahudi dan non-Yahudi, terutama terkait keistimewaan status dan adat istiadat. Selain itu, mereka juga diperhadapkan pada persoalan perbedaan status sosial antara tuan dan budak. Situasi ini kemudian membentuk semangat eksklusivitas. Dalam KBBI kata eksklusivitas bisa bermakna sebuah upaya untuk memisahkan, membatasi akses hanya untuk kalangan tertentu. Lawan kata dari eksklusivitas adalah sikap inklusif yang bermakna mengikutsertakan, melibatkan semua pihak tanpa memandang latar belakang atau dengan kata lain tidak ada yang dikecualikan.
Melalui surat ini, Paulus menegaskan bahwa Injil ditujukan bagi segala bangsa. Karya keselamatan Kristus bukan hanya untuk orang Yahudi, melainkan untuk semua orang, apa pun status dan asalnya. Efesus 2:17 berkata, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’.” Bagaimana hal ini dapat terjadi? Dibutuhkan hati yang terbuka, yang mengizinkan orang-orang yang berbeda menjadi satu keluarga di dalam Kristus. Namun, tanpa disadari, kita pun sering terjebak dalam spirit eksklusivisme ini. Betapa sering kita lebih nyaman berkumpul, beribadah, berkomsel, bahkan melayani bersama orang-orang yang kita anggap mirip dengan diri kita.
Memang natur manusia cenderung berkumpul dengan mereka yang serupa dengan dirinya. Kita tidak sedang melawan natur itu, melainkan belajar mengelolanya dengan membangun cara pandang baru. Apa pun perbedaan orang lain, mampukah kita menemukan unsur kesamaan menurut perspektif Allah? Misalnya, kita sama-sama orang berdosa yang menerima anugerah-Nya, sama-sama sedang diproses untuk dibentuk dalam karakter Kristus.
Pertanyaannya, apakah kita siap menemukan titik kesamaan dan membangun kesatuan, atau justru terus berfokus pada perbedaan? Injil memanggil kita bukan untuk hidup eksklusif, tetapi menjadi komunitas yang mencerminkan hati Allah—menerima, merangkul, dan mengasihi tanpa sekat. (HA)
Questions:
1. Apakah kita lebih sering berfokus pada perbedaan orang lain daripada kesamaan kita di dalam Kristus?
2. Sudahkah Anda membangun sikap inklusif yang merangkul, bukan membatasi, dalam komunitas iman Anda?
Values:
Injil meruntuhkan tembok pemisah dan memanggil setiap orang percaya hidup dalam kesatuan, menerima perbedaan, dan membangun komunitas yang inklusif di dalam Kristus.
Kingdom Quotes:
Kasih itu selalu bisa menemukan persamaan di tengah perbedaan dan keberagaman.