Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yohanes 15:8)
Di era modern, banyak orang Kristen aktif dalam berbagai kegiatan rohani, seperti beribadah, melayani, dan mengikuti berbagai program gereja. Namun, kesibukan rohani tidak selalu menghasilkan kehidupan yang serupa Kristus. Yesus mengajarkan bahwa ukuran seorang murid bukanlah banyaknya aktivitas yang dilakukan, melainkan buah yang dihasilkan. Dalam Yohanes 15:8, Yesus berkata bahwa Bapa dipermuliakan ketika kita berbuah banyak. Karena itu, fokus utama kehidupan Kristen bukan pada aktivitas, melainkan pada karakter yang mencerminkan Kristus.
Buah Roh: Bukti Nyata Hadirat Allah
BUAH ROH yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri—menjadi bukti nyata bahwa Kristus hidup dalam diri seseorang. Karakter inilah yang terlihat ketika seseorang tetap mengasihi saat disakiti, mengampuni ketika dikecewakan, dan tetap rendah hati ketika direndahkan. Melalui sikap seperti inilah orang lain dapat melihat Kristus. Oleh sebab itu, karakter jauh lebih penting daripada jabatan, popularitas, atau kemampuan pelayanan. Pelayanan tanpa kasih hanya menjadi aktivitas keagamaan yang kehilangan makna.
Bahaya Terjebak dalam Simbol
(37) Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu akan terbuang dan kantong itupun hancur. (38) Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. (Lukas 5:37-38)
Salah satu bahaya terbesar dalam kehidupan rohani adalah terjebak pada simbol dan melupakan esensinya. Banyak orang memperdebatkan cara baptisan, bentuk Perjamuan Kudus, atau tradisi gereja, tetapi melupakan tujuan sebenarnya. Baptisan berbicara tentang kematian manusia lama dan kehidupan baru di dalam Kristus. Perjamuan Kudus berbicara tentang persekutuan yang intim dengan Kristus. Gereja pun bukan sekadar gedung atau program, melainkan umat yang dipanggil menjadi terang dunia. Ketika simbol lebih dihargai daripada Pribadi yang dilambangkannya, inti iman Kristen dapat hilang.
Kristus adalah Realitas dari Semua Bayangan
(39) Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, (40) namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu. (Yohanes 5:39-40)
Seluruh simbol dalam Alkitab pada akhirnya menunjuk kepada Kristus. Loh batu, manna, tongkat Harun, dan Tabut Perjanjian hanyalah bayangan yang mengarahkan manusia kepada satu tujuan, yaitu mengenal dan mengalami Kristus. Karena itu, tujuan Allah bukanlah membuat manusia memiliki simbol-simbol rohani, melainkan membentuk karakter Kristus dalam diri mereka.
Kerajaan Allah adalah Pemerintahan Kristus
(16) Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat; (17) semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (Kolose 2:16-17)
Kerajaan Allah berbeda dengan agama. Agama berpusat pada aturan, ritual, dan penampilan lahiriah, sedangkan Kerajaan Allah berpusat pada pemerintahan Kristus di dalam hati manusia. Agama bertanya, “Bagaimana caranya?”, sementara Kerajaan bertanya, “Siapa yang memerintah hidupku?” Ketika Kristus memerintah, perubahan tidak terjadi dari luar ke dalam, tetapi dari dalam ke luar, menghasilkan kehidupan yang dipenuhi kasih, damai sejahtera, dan sukacita.
Penyembahan yang Sesungguhnya
Penyembahan sejati juga tidak terbatas pada nyanyian atau ibadah di gereja. Penyembahan terjadi ketika seseorang memilih kasih daripada ego, pengampunan daripada balas dendam, dan kerendahan hati daripada mempertahankan harga diri. Dengan menyangkal diri dan mengikuti kehendak Kristus setiap hari, seluruh hidup menjadi penyembahan yang berkenan kepada Allah.
Menjadi Tabut yang Hidup
Di bawah Perjanjian Lama, manusia membawa Tabut Perjanjian. Namun dalam Perjanjian Baru, manusia sendiri menjadi bait Allah. Dahulu hadirat Allah berada dalam peti kayu yang disalut emas. Sekarang hadirat Allah tinggal dalam manusia yang telah ditebus oleh darah Kristus. Dahulu imam masuk ke ruang maha kudus. Sekarang ruang maha kudus tinggal di dalam manusia.
Melalui Perjanjian Baru, orang percaya dipanggil menjadi ‘tabut yang hidup’, tempat hadirat Allah tinggal dan dinyatakan. Karena itu, Tuhan memanggil gereja untuk keluar dari ritual menuju hubungan, dari simbol menuju realitas, dan dari agama menuju Kerajaan Allah.
Tujuan akhir Allah bukan membangun sistem agama yang megah, melainkan membentuk manusia menjadi tempat kediaman-Nya. Karena itu, Tuhan memanggil gereja untuk keluar dari ritual menuju hubungan, dari simbol menuju realitas, dan dari agama menuju Kerajaan Allah.
Tujuan akhirnya adalah Kristus dibentuk di dalam manusia sehingga Kerajaan Allah dinyatakan di bumi seperti di surga. AMIN.