BERBUAH KERUKUNAN

BERBUAH KERUKUNAN

Bacaan Setahun:
2Raja-raja 4:38 – 6:23
Kisah Para Rasul 21:27 – 22:22
Mazmur 79:1–13

“Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus.” (Roma 15:5)

Menikmati secangkir kopi memang merupakan momen tepat terutama untuk berefleksi setelah melakukan aktivitas sehari-hari, teristimewa ketika menikmatinya bersama rekan-rekan kita. Ternyata sebagian besar masyarakat sudah lama memiliki falsafah yang menarik terkait menyeruput kopi ini sebagai sarana pergaulan; misalnya masyarakat Jawa mempunyai pemaknaan tersendiri terhadap ‘ngopi”. Bagi mereka, ‘ngopi” sebenarnya memiliki arti ‘mengolah pikiran’. Meskipun kopi terasa pahit, namun bisa dibuat manis atau ‘legi, legowo ning ati’, berlapang dada, ketika kita menambahkan gula dan mengaduknya dengan sendok, ‘sendhekno marang sing duwe kautaman’, yang berarti ‘serahkan pada Yang Mahakuasa’. Langkah selanjutnya penikmat kopi tinggal men’seruput’ minuman itu, dan hasilnya ‘sedoyo rubedo bakal luput’, semua keributan dan godaan dapat dihindari.

Keributan, pertengkaran, pemberontakan dan tidak mau berdamai adalah ciri-ciri manusia akhir zaman yang bahkan juga melanda komunitas orang percaya. Misalnya ketika ada anggota kelompok atau jemaat berpindah ke kelompok atau gereja lain, maka hal itu bisa menimbulkan pertengkaran atau persaingan, karena anggota gereja tersebut dianggap milik kelompok tertentu, sehingga mereka lupa bahwa gereja sesungguhnya adalah milik Tuhan dan bukan perusahaan pribadi. Karena itu kerukunan sesama orang percaya harus senantiasa diupayakan sebab Tuhan memerintahkan berkat kehidupan kepada saudara-saudara yang diam bersama dengan rukun (Mazmur 133:3).

Kerukunan bukan sesuatu yang bisa terjadi dengan sendirinya, ia adalah buah yang tumbuh dari hati yang mau diubahkan. Kerukunan lahir ketika kita membiarkan Roh Kudus bekerja, melembutkan hati, dan menolong kita mengutamakan kasih daripada ego, Kerukunan juga menuntut kerendahan hati, tidak mencari kepentingan sendiri serta menganggap yang lain lebih utama dari pada diri sendiri, sebagaimana diingatkan dalam Filipi 2:3. Sikap inilah yang dapat membuka jalan bagi pengertian dan penerimaan.

Selanjutnya, berbuah kerukunan berarti memilih untuk mengampuni ketika disakiti, mendengar sebelum menghakimi, dan tetap mengasihi sekalipun tidak selalu sependapat. Sikap seperti ini bukanlah kelemahan, melainkan justru kekuatan yang berasal dari Tuhan. Karena itu, mari berefleksi sambil menyeruput kopi, sudahkah hidup kita menghasilkan buah kerukunan bagi orang di sekitar kita? Biarlah melalui perkataan dan tindakan kita, damai Tuhan nyata, sehingga orang lain dapat merasakan kasih-Nya melalui hidup kita. (YL)

Questions:
1. Mengapa masih bisa terjadi perpecahan di antara orang percaya?
2. Bagaimana mengupayakan dan mempertahankan kerukunan dalam komunitas orang percaya?

Values:
Sikap mendengar sebelum menghakimi dan tetap bersedia mengasihi walaupun tidak sependapat merupakan kekuatan.

Kingdom Quotes:
Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran. (Amsal 21:23)