KELUARGA CEMARA
Bacaan Setahun:
1 Tawarih 2:18 – 4:8
Roma 10:5 – 11:10
Amsal 18:7–16
“Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lukas 2:51-52 – TB)
Ternyata, Istilah keluarga cemara tidak hanya ada di layar lebar, namun pernah ada jauh sebelumnya, yaitu di dalam keluarga Yusuf dan Maria. Kelahiran Yesus bukanlah agenda Yusuf dan Maria sejak semula. Maria mengandung Yesus, saat ia dan Yusuf masih bertunangan, Maria adalah seorang perawan yang belum pernah bersetubuh dengan pria bahkan dengan Yusuf yang adalah tunangannya. Maria mengandung dari Roh Kudus dan merupakan rencana Allah yang harus tergenapi. Namun, peristiwa yang ia alami tidak membatasinya mengasihi Yesus, sebagaimana layaknya seorang ibu kepada anaknya. Demikian. juga dengan Yusuf. Mereka berdua dimampukan menjadi orang tua bagi Yesus, dan mendidik Yesus dengan benar, sehingga Yesus pun tumbuh semakin bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan dikasihi di hadapan Allah dan manusia, Artinya, sejak Yesus kanak-kanak, tangki kasih-Nya penuh oleh Yusuf dan Maria.
Mengapa saya bisa katakan keluarga Yusuf dan Maria ibarat keluarga cemara? Pertama, kita dapat melihat bahwa Yusuf dan Maria senantiasa membawa Yesus ke Yerusalem, di mana Bait Allah berdiam. Ini bukti bahwa mereka adalah orang tua yang takut akan Tuhan, dan menempatkan Tuhan sebagai prioritas hidup mereka (Lukas 2). Kedua, saat mereka menemukan Yesus di Bait Allah, mereka bisa saja memarahi Yesus sebagaimana layaknya orang tua yang habis mencari-cari anaknya, lalu menemukan anaknya yang ternyata ada di dalam Bait Allah. Mereka tidak melakukan hal tersebut, sebaliknya, Maria hanya mengungkapkan pertanyaan kepada Yesus mengapa la melakukan hal tersebut, sebagaimana layaknya seorang ibu yang punya rasa kekuatiran kepada anaknya. Hal-hal yang ia rasa tidak perlu diperpanjang, ia menyimpannya di dalam hati. Maria berusaha memahami anaknya. Ketiga, mereka tetap mengasuh Yesus sampai Yesus besar. Artinya, mereka bertanggung jawab.
Apa yang dilakukan Yusuf dan Maria tentu di dalam kemanusiaan Yesus telah menyimpan memori yang baik sebagai anak. la memiliki orang tua yang bertanggung jawab dan terbuka. Bukankah ini juga yang dirindukan oleh setiap anak-anak kita? Gambaran keluarga cemara. Orang tua yang penuh kasih dan tanggung jawab, peduli, dan responsif adalah yang dirindukan oleh banyak anak-anak.
Jangan mengabaikan anak-anak kita. Kita harus bersikap responsif kepada mereka, bila kita mendapati mereka melakukan hal-hal yang tampaknya tidak biasa. Bisa jadi, justru dari hal-hal yang tidak biasa, anak-anak kita bisa menjadi orang-orang yang luar biasa, seperti Yesus; bertambah besar, bertambah hikmat-Nya, semakin dikasihi di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. (LA)
Questions:
1. Keluarga cemara seperti apakah yang dibangun oleh Yusuf dan Maria?
2. Apakah tanggapan Anda mengenai istilah keluarga cemara?
Values:
Hubungan yang harmonis di dalam keluarga terbangun oleh adanya keterbukaan, kepedulian, rasa saling percaya, dan responsif
Kingdom Quotes:
Keluarga adalah manifestasi dari hubungan Anda dengan Allah Sang Creator. ‘Secemara’ hubungan Anda dengan Allah, maka ‘secemara’ itu pula yang terjadi di dalam keluarga Anda!