PENTINGNYA KOMUNIKASI

PENTINGNYA KOMUNIKASI 

Bacaan Setahun:
1 Tawarih 6:1–81
Roma 11:33 – 12:21
Mazmur 89:30–37

“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” (Kolose 4:6)

Suami istri ini telah lama menikah. Sang istri adalah seorang aktivis gereja yang tekun dalam pelayanannya. Sang suami adalah seorang manajer di sebuah perusahaan yang berkembang maju dan berhasil. Dalam pandangan umum, mereka adalah pasangan suami istri yang bahagia dengan segala keberhasilan yang dimiliki. Namun, setelah bertahun-tahun menikah, terdengar kabar bahwa mereka ingin bercerai. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Dari ruang sidang pengadilan akhirnya terungkap bahwa pasangan yang tampak berhasil ini ternyata tidak merasakan damai sejahtera dan kebahagiaan yang mereka rindukan. Sumber dari berbagai masalah dan pertengkaran yang terjadi adalah tidak adanya komunikasi yang baik di antara mereka. Keduanya larut dalam kesibukan masing-masing, jarang berkomunikasi, serta tidak lagi memiliki kepedulian dan perhatian satu terhadap yang lain. Mereka baru menyadari hal itu ketika berada di ruang pengadilan dan tinggal menunggu hakim mengetok palu untuk menjatuhkan putusan perceraian.

Sering kali hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan kita. Kita sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, aktivitas, media sosial, dan berbagai urusan lainnya, tetapi lupa membangun komunikasi yang sehat dengan orang-orang terdekat. Padahal hubungan yang baik tidak dibangun hanya dengan tinggal bersama, melainkan dengan saling mendengar, memperhatikan, dan peduli satu sama lain.

Komunikasi adalah tanda kasih. Tuhan sendiri memberi teladan melalui cara-Nya berhubungan dengan manusia. Sejak awal penciptaan, Allah berbicara kepada manusia, Tuhan tidak diam. la menyampaikan kasih, teguran, penghiburan, dan tuntunan-Nya kepada umat-Nya.

Yesus juga menunjukkan pentingnya komunikasi ketika ia berbicara dengan perempuan Samaria di tepi sumur. Yesus datang bukan sekadar meminta air, tetapi untuk menjangkau hati perempuan itu. la mau mendengar, peduli, dan membangun hubungan dengan seseorang yang sering dijauhi orang lain. Dari percakapan itu, hidup perempuan Samaria dipulihkan.

Melalui renungan ini, kita diingatkan bahwa komunikasi yang baik dapat membawa pemulihan, pengertian, dan damai sejahtera. Jangan menunggu hubungan rusak baru mulai peduli. Luangkan waktu untuk berbicara dengan keluarga, mendengarkan pasangan, memperhatikan sahabat, dan terutama membangun komunikasi yang intim dengan Tuhan melalui doa. Sebab hubungan yang sehat selalu dibangun melalui komunikasi yang hidup. (AU)

Questions:
1. Apakah Anda masih meluangkan waktu untuk mendengar dan memahami orang-orang terdekat Anda
2. Bagaimana kualitas komunikasi Anda dengan Tuhan dan sesama akhir-akhir ini?

Values:
Komunikasi yang sehat membangun hubungan, menghadirkan pemulihan, dan menjadi wujud kasih serta kepedulian kepada sesama.

Kingdom Quotes:
Hubungan yang kuat tidak dibangun hanya dengan kebersamaan, tetapi dengan komunikasi yang hidup dan penuh kasih.