NIKMATNYA KETERBATASAN
Bacaan Setahun:
1Tawarikh 16:37 – 18:17
1Korintus 1:1–17
Amsal 19:3–12
“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24 – TB)
Kata terbatas sering kali dianggap momok. Pembatasan dipahami sebagai pengekangan, seolah-olah segala sesuatu menjadi tidak boleh dilakukan. Kalaupun diperbolehkan, hanya sebagian atau bahkan sangat sedikit. Kebanyakan orang percaya ternyata tidak luput dari pengaruh cara pandang yang mengagungkan kebebasan. Bayangkan ketika Yesus membatasi ruang gerak yang dahulu terasa begitu bebas. Ia berkata, “Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu; melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” (Matius 5:38–39). Apakah hal itu mungkin dilakukan?
Sekali lagi, bayangkan ketika prinsip “mata ganti mata” diterapkan. Kita merasa bebas melampiaskan pembalasan yang dianggap setimpal dan mampu memuaskan amarah di dalam hati. Kelegaan seolah muncul ketika kemarahan dicurahkan tanpa kendali sehingga keinginan untuk membalas terpuaskan. Karena itu, tidak mengherankan jika perkataan Yesus, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,” terasa tidak menyenangkan. Bahkan lebih sulit lagi ketika kita diminta mendoakan dan memberkati mereka.
Lalu, di manakah letak kenikmatan dalam keterbatasan? Pertanyaan ini mungkin terdengar sinis, karena banyak orang beranggapan bahwa kenikmatan hanya dapat ditemukan dalam kebebasan tanpa batas untuk mengekspresikan perasaan dan keinginan. Inilah salah satu keyakinan yang banyak dianut manusia masa kini, yang sering kali bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus.
Ajaran kasih Kristus kerap dianggap sebagai sesuatu yang tidak masuk akal, bahkan sebagai kebodohan. Jika orang yang berbuat jahat didoakan dan diberkati, kapan ia akan menyadari kesalahannya? Bukankah prinsip “mata ganti mata” terlihat lebih tegas dan berwibawa?
Kita perlu memahami bahwa terbatas tidak sama dengan tidak berdaya. Justru sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi wujud kekuatan yang besar. Dengan membatasi diri, kita mampu menyingkirkan dorongan untuk membalas dendam. Kita tidak lagi diperbudak oleh amarah atau keinginan untuk menyakiti kembali.
Menyangkal diri juga berarti membatasi diri. Kita tidak lagi hidup seperti dahulu, mengumbar kebebasan dan menuruti hawa nafsu tanpa kendali. Di situlah letak keindahannya. Keterbatasan yang diajarkan Kristus menghadirkan kebaikan bagi banyak orang, sedangkan kebebasan tanpa batas sering kali hanya menguntungkan sebagian orang. Karena itu, keterbatasan yang lahir dari kasih dan ketaatan kepada Tuhan bukanlah beban, melainkan sebuah kenikmatan yang membawa damai dan kehidupan. (AU)
Questions:
1. Apakah Anda masih merasa berhak membalas orang yang menyakiti Anda?
2. Bagaimana Anda dapat menunjukkan kasih Kristus kepada orang yang berbuat tidak baik kepada Anda?
Values:
Keterbatasan yang lahir dari ketaatan kepada Kristus bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan untuk mengendalikan diri, mengalahkan amarah, dan menghadirkan damai bagi sesama.
Kingdom Quotes:
Kebebasan sejati bukanlah melakukan segala yang kita inginkan, melainkan memiliki kuasa untuk melakukan kehendak Tuhan.