PEMBELAAN YANG TERTUNDA
Bacaan Setahun:
2Tawarikh 1:1–17
1Korintus 6:1–20
Mazmur 94:1–11
“Kemudian datanglah dua orang, yakni orang-orang dursila itu, lalu duduk menghadapi Nabot. Orang-orang dursila itu naik saksi terhadap Nabot di depan rakyat, katanya: ‘Nabot telah mengutuk Allah dan raja.’ Sesudah itu mereka membawa dia ke luar kota, lalu melempari dia dengan batu sampai mati.” (1 Raja-raja 21:13 – TB)
Pengadilan Nabot sudah ditentukan hasilnya sebelum sidang dimulai. Dua saksi palsu disewa, tuduhan disusun, dan rakyat ikut melempari batu sampai seorang yang tidak bersalah mati di luar kota. Yang membunuh Nabot bukan hanya batu, tetapi sebuah sistem yang dipakai untuk membungkus kejahatan dengan tampilan hukum. Di balik semuanya berdiri Izebel, ratu yang tahu cara memutarbalikkan pengadilan demi sebidang kebun anggur.
Pertanyaan yang wajar muncul: di mana Allah ketika Nabot dilempari batu? Mengapa Ia diam? Kita perlu jujur. Pada hari itu tidak ada suara dari langit. Tidak ada api yang turun membela Nabot. Ia mati, dan kebun anggurnya berpindah tangan. Kalau pembelaan Allah kita ukur hanya dari apakah Nabot selamat dari maut, seakan-akan Allah kalah pada hari itu. Tetapi kisah ini belum selesai di ayat tiga belas. Beberapa waktu kemudian Elia datang menemui Ahab membawa firman penghukuman. Darah Nabot tidak dilupakan. Izebel akan mati dengan cara yang mengerikan, dan keturunan Ahab akan dihabisi. Pembelaan itu datang, hanya saja tidak secepat yang kita harapkan.
Di sinilah kita belajar sesuatu yang sulit tetapi penting. Pembelaan Allah tidak selalu berarti Ia melepaskan orang benar dari penderitaan di bumi. Nabot tetap mati. Banyak orang benar tetap menderita. Bukan karena Allah tidak peduli, melainkan karena perhitungan-Nya jauh lebih panjang daripada satu kehidupan di dunia ini. Ada keadilan yang dikerjakan di sini dan sekarang, ketika Ahab dan Izebel menuai apa yang mereka tabur. Ada juga keadilan yang menanti di kekekalan, tempat orang benar seperti Nabot menerima upah yang tidak bisa dirampas oleh ratu mana pun. Dua jenis keadilan ini tidak saling membatalkan. Yang satu menunjukkan bahwa Allah tidak tidur, yang lain memastikan bahwa tidak ada penderitaan orang benar yang berakhir sia-sia.
Mungkin hari ini Anda merasa seperti Nabot. Anda berlaku benar, lalu difitnah, dirugikan, atau disingkirkan oleh orang yang lebih berkuasa. Diamnya Allah terasa seperti ketidakpedulian. Tahanlah pikiran itu. Diam bukan berarti tidak melihat. Penundaan bukan berarti pembatalan. Allah mencatat setiap batu yang dilemparkan kepada orang benar. Ia mencatat nama Nabot, dan Ia mencatat nama Anda. Apa yang tampak seperti kekalahan di bumi sedang dihitung ulang di hadapan takhta-Nya. Orang benar tidak pernah benar-benar kehilangan, sebab jerih lelahnya akan dituai di tempat yang tidak bisa dijangkau oleh ketidakadilan. (DH)
Questions:
1. Di area mana Anda sedang tergoda menganggap diamnya Allah sebagai tanda bahwa Ia tidak peduli?
2. Jika Anda percaya ada perhitungan di kekekalan, bagaimana hal itu mengubah cara Anda menanggapi ketidakadilan yang Anda alami hari ini?
Values:
Diamnya Allah bukan tanda Ia tidak melihat, melainkan tanda bahwa perhitungan-Nya lebih panjang daripada yang kita kira.
Kingdom Quotes:
Penundaan pembelaan bukanlah pembatalan pembelaan.