PEMULIHAN HATI

PEMULIHAN HATI 

Bacaan Setahun:
Pengkhotbah 1:1 – 3:22
1 Korintus 7:1–16
Mazmur 94:12–23

“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.” (Mazmur 147:3)

Pagi ini sebuah novel berbahasa Inggris terlihat di meja anak saya, judulnya kurang lebih berbunyi “Masyarakat Kebohongan”, yang ternyata berkisah tentang sebuah misteri menegangkan yang terjadi di lingkungan kampus elit. Konflik, dusta, konspirasi, intrik dalam masyarakat, institusi atau komunitas masa kini, sebenarnya bukan lagi hal yang mengejutkan karena memang sudah disebutkan dalam Firman Tuhan berkenaan dengan keadaan manusia pada akhir zaman (2 Timotius 3:1-5). Penipuan, kecurangan, berita yang menyesatkan, bahkan kemunafikan, tidak saja mengakibatkan kerugian materi, namun juga berpotensi menimbulkan kerusakan pada tanah hati. Dampak tindakan tak terpuji itu bisa berupa gangguan emosi, amarah, kepahitan dan kekecewaan.

Jika hati diibaratkan sebagai tanah yang akan ditaburi benih, maka tanah yang penuh semak duri kepahitan dan kekecewaan haruslah dibersihkan, sehingga benih itu bisa tumbuh dan berbuah di tanah hati yang sudah dipulihkan. Tanpa pemulihan, tanah hati dapat mengeras karena luka, penolakan, atau kenyataan yang tidak sesuai dengan doa dan impian. Dalam keadaan demikian, orang percaya cenderung mengalami kehilangan semangat untuk kembali percaya. Karena itu, langkah pemulihan harus segera dilaksanakan agar terjadi pertumbuhan dan pelipatgandaan.

Pemulihan tanah hati tidak terjadi seketika, melainkan melalui proses menuju kedewasaan iman. Langkah awal ialah mengenali dan mencabut duri yang tumbuh, menerima bahwa tidak semua harapan terwujud sesuai keinginan. Kesadaran dan penerimaan membuka jalan pemulihan, disertai kesediaan mengampuni dan melepaskan belenggu masa lalu.

Setelah akar kepahitan dan kekecewaan disingkirkan, tanah hati perlu disirami ucapan syukur atas kebaikan Tuhan. Hati yang dilembutkan oleh rasa bersyukur siap ditaburi benih pengharapan baru, yaitu keberanian tetap percaya bahwa masa depan sungguh ada dan harapan tidak akan hilang (Amsal 23:18). Benih ini perlu dirawat setiap hari melalui doa dan perenungan Firman Tuhan agar tetap terhubung dengan-Nya.

Tanah hati yang telah dibersihkan dan ditaburi benih baru memerlukan waktu untuk menghasilkan buah yang baik karena Tuhan bekerja melalui proses. Ia membentuk karakter, menumbuhkan iman, dan mengajarkan ketergantungan kepada-Nya, bukan pada keadaan. Kegagalan atau kehilangan yang dialami saat ini mungkin dipakai Tuhan untuk membuka jalan yang lebih baik sesuai rencana-Nya. Mari bersabar dengan proses pertumbuhan tersebut. (YL)

Questions:
1. Mengapa ‘tanah hati’ manusia dapat menjadi keras dan kering?
2. Apa yang dimaksud dengan benih yang baru dan bagaimana cara merawatnya?

Values:
Bertumbuh dan berbuah merupakan proses yang memerlukan waktu.

Kingdom Quotes:
Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi. (Yakobus 5:7)