Tuhan merindukan setiap keluarga menjadi keluarga yang menyembah-Nya, bukan hanya melalui ibadah di gereja atau komsel, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kisah pembaruan perjanjian di Sikhem (Yosua 24:1-28), Yosua mengingatkan bangsa Israel akan penyertaan dan kesetiaan Tuhan sepanjang perjalanan mereka. Keluarga yang menyembah adalah keluarga yang menjadikan Tuhan sebagai pusat hidupnya, menghidupi Firman Tuhan, dan memancarkan kasih Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Dari kisah ini kita belajar bagaimana kehidupan sehari-hari keluarga yang menyembah Tuhan:
Menempatkan Yesus sebagai Pusat Kehidupan Keluarga (Yosua 24:15)
Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”
(Yosua 24:15)
Yosua dengan tegas menyatakan, “Aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa setiap keluarga harus dengan sadar memilih Tuhan sebagai pusat kehidupan. Ketika Yesus menjadi pusat, keluarga memiliki dasar yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan, karena Tuhanlah yang memegang kendali atas setiap keadaan.
Menjadikan Kristus sebagai pusat berarti seluruh anggota keluarga belajar hidup sesuai kehendak Tuhan. Orangtua tidak hanya mengajarkan iman melalui perkataan, tetapi juga melalui teladan hidup. Pemuridan dimulai dari rumah, sehingga setiap anggota keluarga bertumbuh dalam kasih, kerendahan hati, dan kesediaan untuk saling menegur serta berubah. Keluarga yang kuat akan menjadi berkat bagi lingkungan, bahkan bagi bangsa.
Menjadi Terang dan Garam bagi Dunia
Tuhan tidak hanya menghendaki keluarga yang berhasil secara duniawi, tetapi keluarga yang membawa pengaruh positif. Keluarga Kristen dipanggil menjadi terang dan garam dengan memancarkan kasih, damai sejahtera, sukacita, serta pengampunan dalam kehidupan sehari-hari.
Hubungan yang erat dengan Tuhan menjadi sumber kekuatan untuk menjalankan panggilan ini. Kekristenan bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan, melainkan membangun relasi yang hidup dengan Tuhan sehingga kehidupan keluarga menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya.
Mengingat dan Mensyukuri Anugerah Tuhan (Yosua 24:16)
Lalu bangsa itu menjawab: “Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain! (Yosua 24:15)
Keluarga yang menyembah adalah keluarga yang senantiasa mengingat kasih karunia Tuhan. Kesadaran akan anugerah keselamatan membuat seseorang tetap rendah hati, penuh pengharapan, dan mampu bersukacita dalam segala keadaan.
Tantangan hidup bukanlah alasan untuk kehilangan sukacita, melainkan kesempatan untuk bertumbuh dalam iman. Persoalan yang dihadapi dapat menjadi sarana Tuhan membentuk karakter dan menguatkan kepercayaan kepada-Nya. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk selalu menemukan alasan bersyukur, sebab pengharapan sejati hanya ada di dalam Kristus.
Konsisten dalam Komitmen untuk Berubah (Yosua 24:19-21; 23-24)
(19) Tetapi Yosua berkata kepada bangsa itu: “Tidaklah kamu sanggup beribadah kepada TUHAN, sebab Dialah Allah yang kudus, Dialah Allah yang cemburu. Ia tidak akan mengampuni kesalahan dan dosamu. (20) Apabila kamu meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada allah asing, maka Ia akan berbalik dari padamu dan melakukan yang tidak baik kepada kamu serta membinasakan kamu, setelah Ia melakukan yang baik kepada kamu dahulu.” (21) Tetapi bangsa itu berkata kepada Yosua: “Tidak, hanya kepada TUHAN saja kami akan beribadah.” (Yosua 24:19-21)
(23) Ia berkata: “Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel.” (24) Lalu jawab bangsa itu kepada Yosua: “Kepada TUHAN, Allah kita, kami akan beribadah, dan firman-Nya akan kami dengarkan.” (Yosua 24:23-24)
Ibadah yang sejati tidak berhenti pada pertemuan hari Minggu, tetapi diwujudkan melalui kehidupan yang terus berubah menjadi serupa Kristus. Kesetiaan kepada Tuhan harus tetap dipelihara, baik dalam keadaan mudah maupun sulit.
Orang percaya dipanggil bukan hanya menjadi motivator atau inspirator, melainkan pembawa transformasi. Cara bekerja, berbicara, bersikap, dan memperlakukan orang lain merupakan bagian dari penyembahan kepada Tuhan. Ketika hidup dijalani dengan kesadaran bahwa kita telah diterima sepenuhnya oleh Kristus, setiap aktivitas menjadi kesempatan untuk memuliakan-Nya.
Mengikat Perjanjian dengan Tuhan (Yosua 24:25-27)
(25) Pada hari itu juga Yosua mengikat perjanjian dengan bangsa itu dan membuat ketetapan dan peraturan bagi mereka di Sikhem. (26) Yosua menuliskan semuanya itu dalam kitab hukum Allah, lalu ia mengambil batu yang besar dan mendirikannya di sana, di bawah pohon besar, di tempat kudus TUHAN. (27) Kata Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Sesungguhnya batu inilah akan menjadi saksi terhadap kita, sebab telah didengarnya segala firman TUHAN yang diucapkan-Nya kepada kita. Sebab itu batu ini akan menjadi saksi terhadap kamu, supaya kamu jangan menyangkal Allahmu.”
(Yosua 24:25-27)
Yosua mengajak bangsa Israel memperbarui komitmen mereka kepada Tuhan sebagai tanda kesetiaan. Perjanjian dengan Tuhan bukanlah sekadar ungkapan emosi sesaat, melainkan keputusan hidup yang diwujudkan melalui integritas dan ketaatan setiap hari.
Sebagai orang percaya, kita perlu terus mengevaluasi diri agar kehidupan kita mencerminkan iman yang sejati. Dunia membutuhkan keluarga Kristen yang bukan hanya religius, tetapi juga memiliki karakter dan integritas yang kuat. Ketika keluarga hidup setia kepada Tuhan dan memegang teguh perjanjian dengan-Nya, mereka akan menjadi kesaksian yang memuliakan nama Tuhan di tengah masyarakat. (VW)