Healing The Land | Pdm. Ferry V. Roos

Lalu umat-Ku, yang dinamai menurut nama-Ku, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, serta berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari surga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”
(2 Tawarikh 7:14 – TB2)

Healing the Land berarti pemulihan negeri. Namun, pemulihan negeri yang dimaksud bukan sekadar perbaikan ekonomi, sosial, atau politik. Pemulihan sebuah bangsa dimulai dari pemulihan hati umat Tuhan. Dasar pemikiran ini ditegaskan melalui 2 Tawarikh 7:14: ketika umat Tuhan merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Nya, dan berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, Tuhan berjanji mendengar dari surga, mengampuni dosa, dan memulihkan negeri mereka. Kata “memulihkan” berkaitan dengan konsep rapha, yaitu menyembuhkan, memperbaiki, dan memulihkan secara menyeluruh.

Karena itu, Healing the Land dimulai dari gereja. Bukan pertama-tama dari pemerintah, sistem ekonomi, atau perubahan sosial, tetapi dari umat Tuhan yang mau merendahkan hati dan hidup dalam pertobatan. Pemulihan negeri dimulai ketika umat Tuhan mengalami pemulihan secara pribadi dan kemudian menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah melalui kehidupan mereka.

Ibadah kita tidak boleh berhenti pada kebaktian hari Minggu. Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan kehidupan yang kudus dan berkenan kepada Tuhan. Kehidupan Senin sampai Sabtu—di tempat kerja, dalam usaha, sekolah, kuliah, keluarga, dan masyarakat—harus menjadi kesaksian bahwa Kristus hidup di dalam kita. Karena itu, seorang percaya dipanggil bukan hanya untuk hadir dalam gereja, tetapi untuk membawa kehadiran dan karakter Kristus ke tengah dunia.

Janji Pemulihan

Mereka akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan mendirikan kembali tempat-tempat yang sejak dahulu menjadi sunyi; mereka akan membaharui kota-kota yang runtuh, tempat-tempat yang telah turun-temurun menjadi sunyi. (Yesaya 61:4)

Bagian pertama adalah janji pemulihan. Yesaya 61:4 berbicara tentang membangun kembali reruntuhan yang telah lama hancur. Kata membangun dalam Bahasa Ibrani dipakai kata banah berarti membangun kembali sesuatu yang rusak hingga dapat berfungsi sesuai dengan tujuan semula. Ini menunjukkan bahwa tidak ada keadaan yang terlalu rusak bagi Tuhan untuk dipulihkan. Kehidupan yang hancur, keluarga yang berantakan, pelayanan yang mengalami kemunduran, bahkan keadaan ekonomi yang sulit tetap berada dalam jangkauan kuasa Tuhan.

Namun, janji pemulihan ini menuntut respons kita untuk merendahkan hati, bertobat, taat, dan memiliki respons yang benar terhadap setiap keadaan. Tuhan lebih tertarik mengubah kehidupan dan hati kita daripada sekadar mengubah keadaan kita.

Dipulihkan untuk Memulihkan

(51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku! (Mazmur 51-12-13)

Pemulihan dari Tuhan tidak pernah dimaksudkan hanya untuk dinikmati secara pribadi. Kita dipulihkan supaya dapat memulihkan orang lain. Mazmur 51:12-13 menjadi gambaran penting melalui doa Daud: meminta hati yang tahir dan roh yang teguh. Pola pemulihan dalam Kerajaan Allah adalah: hancur – disadarkan – dipulihkan – memulihkan.

Dengan demikian, pengalaman luka, kegagalan, pertobatan, dan pemulihan tidak berhenti pada diri kita. Tuhan dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk membuat kita menjadi saluran pertolongan bagi orang lain.

Sebagai orang percaya kita tidak boleh hidup egois dengan pola “rumah saya, keluarga saya, uang saya, kehidupan saya.” Kehidupan yang telah dipulihkan harus menjadi berkat. Pada masa COVID-19 gereja memberikan bantuan sembako yang sederhana, tetapi ternyata menjadi pintu bagi terbangunnya hubungan, doa kesembuhan, dan akhirnya banyak orang menerima Kristus, dibaptis, serta dimuridkan. Inilah hati Kerajaan Allah: menerima pemulihan bukan untuk berhenti pada berkat, tetapi membawa berkat itu kepada orang lain.

 

Transformasi

Jadisiapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17)

Bagian ketiga adalah transformasi. 2 Korintus 5:17 menyatakan bahwa orang yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru. Transformasi berarti perubahan yang sungguh-sungguh dalam kualitas dan tatanan hidup.

Transformasi bukan sekadar perubahan perilaku lahiriah. Roh dan karakter kita diperbarui sehingga kehidupan kita dapat menjadi garam dan terang dunia. Yesus tidak memanggil orang percaya hanya untuk “menjadi” garam dan terang secara identitas, tetapi untuk berfungsi sebagai garam dan terang sehingga orang lain melihat perbuatan baik dan memuliakan Bapa di surga.

Karena itu, kehidupan orang percaya harus menghadirkan Kristus dalam keluarga, pekerjaan, usaha, pelayanan, dan masyarakat. Perkataan, sikap hati, keputusan, dan tindakan kita tidak boleh menjadi batu sandungan, tetapi harus membuat orang melihat karakter Kristus.

Yakobus 1:27 bahkan menggambarkan ibadah yang murni melalui kepedulian kepada mereka yang berada dalam kesusahan serta kehidupan yang tidak dicemarkan oleh dunia. Ketika umat Tuhan hidup demikian, Tuhan memakai mereka untuk membawa kesembuhan bagi “tanah” tempat mereka ditempatkan.

 

Healing the Land pada akhirnya bukan pertama-tama tentang mengubah negeri, tetapi tentang Tuhan mengubah umat-Nya sehingga umat-Nya dapat dipakai untuk mengubah dan memulihkan negeri. Seorang warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang hidup sebagai garam dan terang. Ia merendahkan hati, bertobat, taat, mengalami pemulihan, lalu menjadi saluran pemulihan bagi keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa. Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya, “Tuhan, kapan Engkau memulihkan negeri ini?” tetapi juga, “Tuhan, apa yang harus Engkau pulihkan di dalam hidup saya agar saya dapat menjadi alat-Mu untuk memulihkan negeri ini?”

Pemulihan dimulai dari hati. Hati yang dipulihkan menghasilkan kehidupan yang ditransformasi. Kehidupan yang ditransformasi menjadi saluran pemulihan. Dan ketika umat Tuhan hidup demikian, mereka tidak lagi hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi dipakai Tuhan untuk membawa nilai-nilai Kerajaan Allah sampai kepada keluarga, gereja, negeri, bahkan bangsa-bangsa.