BUAH TIDAK PERNAH BERDUSTA

BUAH TIDAK PERNAH BERDUSTA

Rabu
26 Agustus 2026

Bacaan Setahun:
2Taw. 26:1–28:27
2Kor. 1:1–11
Mzm. 103:1–12

“Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.” (Matius 7:20)

Siapakah di antara kita yang pernah membeli buah yang tampak segar dan menarik dari luar, tetapi setelah dibawa pulang ternyata rasanya asam, hambar, atau tidak manis? Tentu kita merasa kecewa. Penampilan luar ternyata tidak selalu mencerminkan kualitas di dalamnya.

Prinsip yang sama digunakan Yesus ketika menutup rangkaian khotbah-Nya di bukit (Matius 5–7), yang sering disebut pengajaran dasar Yesus, mengapa? Karena ini sebuah pengajaran yang keluar dari perkataan Yesus yang ditujukan secara khusus oleh para murid Kristus. Jika dapat disimpulkan sederhana pengajaran Yesus dalam Matius 5–7 adalah KUALITAS MURID KRISTUS.

Pada bagian akhir pengajaran ini Yesus mengibaratkan seperti pohon, yang akan dinilai kualitasnya bukan pada banyaknya daun, melainkan pada kualitas buah yang dihasilkan. Artinya kualitas murid Kristus sejati akan ditunjukkan dari kualitas buah yang dihasilkan. Menjadi murid dan menghasilkan murid adalah istilah paling esensi dalam keikutsertaan kita pada Yesus. Mengapa Yesus mengharapkan kita menjadi murid dan bukan sekedar pengikut?

Matius 5:1–2, “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya.”

Firman Tuhan ini menggambarkan awalan dari sebuah rangkaian materi pengajaran luar biasa yang Yesus ajarkan yang kemudian di kenal dengan nama pengajaran Yesus atau khotbah Yesus di bukit, yang diawali dengan ucapan berbahagia. Tapi jika kita melihat konteksnya maka sebenarnya khotbah Yesus di bukit diikuti dengan serius hanya oleh sejumlah kecil murid-Nya yang ikut naik. Padahal ayat sebelumnya menggambarkan bahwa sebelum naik ke bukit ada banyak orang mengikuti Yesus setelah Ia melakukan berbagai mujizat.

Tanpa sadar, hari-hari ini kita mengaku sebagai orang Kristen sebenarnya cuman menjadi pengikut Kristus, karena kita hanya sering tertarik pada karya mujizat dan pertolongan Yesus bagi kita dan bukan pada pengajaran isi hati atau prinsip-prinsip kebenaran-Nya. Sepanjang Yesus mengajar di bukit dari Matius 5–7, ada beberapa buah yang diharapkan dari murid-murid-Nya, yaitu buah karakter (Matius 5:1–12), buah pengaruh (Matius 5:13–16), buah ketaatan (Matius 5:17–7:14), buah murid yang baru (Matius 7:17–18).

Orang banyak tidak tahu oleh pengajaran Yesus. Mereka menikmati mujizat, mencari pertolongan dan membawa kebutuhan diri. Kekaguman saja tidak cukup. Tuhan tidak hanya mencari pengikut yang datang ketika membutuhkan-Nya, tetapi murid yang rela dibentuk dan menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah. Bagaimana dengan Anda? (HA)

Questions:

  1. Apakah Anda hanya menjadi pengikut Kristus, atau sungguh-sungguh menjadi murid-Nya?
  2. Buah apa yang sudah dihasilkan hidup Anda bagi Kerajaan Allah?

Values:

Murid Kristus yang sejati tidak hanya mendengar firman, tetapi hidup dalam ketaatan sehingga menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan.

Dunia tidak diubahkan oleh orang banyak yang mengagumi Yesus tapi oleh murid yang hidupnya menjadi serupa dengan Yesus.