EMOSI TINGGI, RASIONAL TURUN
Sabtu
29 Agustus 2026
Bacaan Setahun:
2Taw. 33:21–35:19
2Kor. 2:12–3:6
Mzm. 104:1–18
“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” (Amsal 14:29)
Emosi adalah bagian alami dari manusia. Tuhan menciptakan kita dengan kemampuan untuk marah, sedih, takut, gembira, bahkan antusias. Namun masalah muncul ketika emosi mengambil alih kendali atas rasio. Saat emosi naik terlalu tinggi, kemampuan berpikir jernih biasanya turun drastis. Itulah sebabnya banyak keputusan paling buruk dalam hidup dibuat saat seseorang sedang bodoh, tetapi saat ia terlalu emosional.
Firman Tuhan berkata, “orang yang sabar besar pengertiannya.” Artinya, kesabaran berhubungan erat dengan kemampuan memahami keadaan secara utuh sebelum bereaksi. Orang yang punya pengertian luas tidak mudah tersulut, karena ia mampu menganalisa situasi dengan kepala dingin. Menariknya, pendidikan tinggi ternyata tidak otomatis membuat seseorang lebih rasional. Banyak orang pintar tetap bisa kehilangan akal sehat ketika emosinya dipermainkan. Hari ini kita hidup di era ketika emosi lebih mudah dijual daripada logika. Media sosial, berita viral, potongan video pendek, bahkan algoritma digital bekerja dengan cara membangkitkan kemarahan, ketakutan, kebencian, atau euforia.
Karena itu masyarakat modern menjadi sangat mudah digiring. Orang bisa langsung marah hanya karena membaca judul berita tanpa memeriksa isinya. Bisa langsung membenci seseorang karena potongan video tanpa memahami konteks penuh. Bahkan dalam politik modern, sentimen emosional sering jauh lebih kuat pengaruhnya dibanding data dan fakta. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Politik identitas, fanatisme kelompok, dan permainan sentimen sosial terbukti mampu membuat orang kehilangan objektivitas. Rasionalitas sering kalah oleh emosionalitas.
Tetapi masalah ini tidak hanya terjadi dalam politik. Dalam kehidupan sehari-hari pun sama. Banyak orang menyesal karena mengambil keputusan saat sedang marah, kecewa, takut, atau terlalu gembira. Ada yang memutus hubungan karena emosi sesaat. Ada yang keluar kerja tanpa pertimbangan matang. Ada yang menghamburkan uang karena euforia. Itulah sebabnya orang bijak berkata: jangan membuat keputusan besar ketika emosi sedang memuncak — baik emosi negatif maupun positif. Sebab pada saat itu, kita cenderung tidak rasional.
Nasihat Jawa lama tetap relevan: “eling lan waspodo” — sadar dan waspada. Kenali apa yang mudah memancing emosi Anda. Sebab ketika emosi menguasai hati, bahkan orang berpendidikan tinggi sekalipun dapat bertindak bodoh. Warga Kerajaan Allah seharusnya menjadi pribadi yang mampu menguasai diri. Bukan manusia yang dikendalikan amarah, fanatisme, ketakutan, atau euforia sesaat. Kedewasaan rohani terlihat ketika seseorang tetap tenang, jernih, dan bijaksana di tengah situasi yang panas. (DD)
Questions:
- Apa hal yang paling mudah membuat Anda kehilangan rasionalitas: kemarahan, ketakutan, kebencian, atau pujian?
- Pernahkah Anda membuat keputusan besar saat emosi memuncak lalu akhirnya menyesalinya?
Values:
Warga Kerajaan belajarlah tenang, berpikir sebelum bertindak, berdoa sebelum mengambil keputusan. Sebab ketika emosi naik terlalu tinggi, rasionalitas sering turun terlalu rendah.
Orang dewasa bukanlah orang yang tidak punya emosi, melainkan yang mampu menempatkan emosinya di bawah kendali hikmat dan kebenaran.