NALURI BERTAHAN HIDUP
Senin, 7 September 2026
Bacaan Setahun: Yes. 14:1–16:14 2Kor. 9:6–15 Mzm. 106:1–15
“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17)
Hamster dikenal sebagai hewan peliharaan yang lucu, bertubuh kecil, berekor pendek, dan memiliki kantong pipi untuk menyimpan makanan. Namun, di balik penampilannya, hamster dapat bersifat kanibal. Ketika merasa sumber daya atau kelangsungan hidupnya terancam, hamster dapat memangsa sesamanya. Perilaku memangsa dan mengorbankan sesamanya merupakan salah satu bentuk naluri primordial, yaitu insting purba yang dimiliki makhluk hidup sejak tahap awal evolusi untuk mempertahankan dan menyelamatkan diri.
Refleks bertahan hidup pada manusia biasanya muncul ketika seseorang berada dalam tekanan atau ketakutan sehingga karakter aslinya terlihat jelas. Tidak sedikit orang yang memandang sesamanya hanya sebagai alat demi mempertahankan pekerjaan, kedudukan atau kepentingannya. Akibatnya mereka rela mengorbankan, mengkhianati atau bahkan mencelakakan orang lain demi mengamankan dirinya. Naluri bertahan hidup memang merupakan bagian dari kodrat manusia, tetapi jika naluri itu mengalahkan hati nurani dan kasih, maka dosa sudah mengintip di depan pintu, dan sebagai manusia ciptaan baru dalam Kristus harus berkuasa atasnya.
Orang percaya dipanggil untuk tetap hidup dalam kasih, kejujuran dan kesetiaan sekalipun ada godaan melakukan apa saja agar bisa menyelamatkan diri. Alkitab memberikan contoh beberapa tokoh yang memilih kepentingan pribadi daripada kebenaran. Masing-masing menunjukkan bahwa dosa membuat seseorang rela mengorbankan orang lain demi keselamatan, kedudukan, atau keuntungan diri sendiri. Adam menyalahkan Hawa untuk membela dirinya. Kain membunuh Habel karena iri hati. Saul berulang kali berusaha membunuh Daud untuk mempertahankan tahtanya. Yudas Iskariot dan Kayafas mengorbankan Tuhan Yesus demi uang dan kekuasaan. Pontius Pilatus memilih mengorbankan-Nya dengan alasan keamanan politik dan takut menyenangkan orang banyak, lalu ia menggunakan taktik cuci tangan.
Karakter dalam contoh tersebut menunjukkan pola yang sama, yakni ketika hati dikuasai oleh keserakahan, iri hati, ambisi, ketakutan, atau keinginan mempertahankan kedudukan, seseorang dapat membenarkan tindakan mengorbankan atau mencelakakan orang lain. Namun Tuhan Yesus menunjukkan teladan yang berbeda. Ia tidak mempertahankan diri dengan mengorbankan orang lain, tetapi justru menyerahkan diri-Nya untuk menyelamatkan manusia. Orang percaya tentunya tetap memiliki naluri untuk bertahan hidup, namun ketika tekanan hidup datang, apakah kita cenderung melindungi diri dengan mengorbankan sesama, ataukah bersedia mengikuti teladan Kristus yang mengasihi dan mau berkorban. (YL)
Questions:
-
Bagaimanakah orang percaya seharusnya bersikap terhadap godaan menyelamatkan diri dengan mengorbankan sesama?
-
Apakah penyebab seseorang dapat membenarkan tindakan mengorbankan orang lain untuk dirinya?
Values:
Manusia sering mengorbankan kebenaran untuk menyelamatkan diri sendiri, namun Allah memakai pengorbanan Kebenaran untuk menyelamatkan manusia.
Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. (Kolose 3:9)