Barangsiapa ditentukan untuk ditawan, ia akan ditawan; barangsiapa ditentukan untuk dibunuh dengan pedang, ia harus dibunuh dengan pedang. Yang penting di sini ialah ketabahan dan iman orang-orang kudus. (Wahyu 13:10)
Tema kita bulan ini “Stand Firm in Faith” mengingatkan bahwa kehidupan orang percaya bukanlah perjalanan yang selalu mudah. Ada masa ketika kita berhadapan dengan penderitaan, ketidakadilan, aniaya, kehilangan, bahkan keadaan yang tidak dapat kita mengerti. Dalam situasi seperti itu dapat muncul pertanyaan “mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi?” tetapi sering kali pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang sederhana. Namun, firman Tuhan memberikan satu hal yang harus tetap dimiliki orang percaya: iman dan ketabahan. Wahyu 13:10 menegaskan bahwa yang penting adalah ketabahan dan iman orang-orang kudus.
Ketika kita mengalami kehilangan dan penderitaan dalam pelayanan. Penderitaan yang kita alami tidak harus membuat kita menjadi pahit, tetapi ini adalah proses yang membuat kita semakin kuat dan lebih baik. Ketabahan terlihat ketika kita tetap memilih panggilan Tuhan sekalipun hidup kita tidak berjalan sesuai dengan harapan.
Karena itu, kita sebagai orang percaya kita tidak boleh membangun iman berdasarkan anggapan bahwa kehidupan bersama Tuhan akan selalu bebas dari penderitaan. Yesus sendiri berkata bahwa di dalam dunia orang percaya akan mengalami kesusahan, tetapi Ia telah mengalahkan dunia. Aniaya dan penderitaan bukan alasan untuk meninggalkan Tuhan, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa iman kita sungguh-sungguh berakar di dalam Dia.
Mengenal Identitas dan Posisi Kita
Salah satu dasar untuk dapat berdiri teguh adalah mengetahui siapa diri kita di dalam Tuhan. Gereja yang bergerak adalah gereja yang memahami identitasnya. Orang percaya disebut sebagai orang-orang kudus yang berkemenangan, keluarga Allah yang penuh kasih, tentara-tentara Allah yang berkemenangan, dan pengantin Kristus yang mulia.
Oleh sebab itu kita harus tahu empat hal penting: know your identity (tahu Identitas kita), know your position (tahu posisi kita), know your purpose (tahu tujuan hidup kita), dan know your inheritance (tahu warisan kita). Identitas yang benar akan menentukan cara seseorang menjalani kehidupan. Ketika seseorang memahami posisinya di dalam Kristus, ia tidak lagi hidup sebagai korban keadaan, tetapi sebagai pribadi yang mengetahui otoritas dan panggilannya.
Hal ini digambarkan melalui konsep “sit, walk, stand.” Dalam Efesus 2:4–6 mengingatkan bahwa Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus dan memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di surga. Dari posisi tersebut, orang percaya dipanggil untuk walk worthy, yaitu hidup berpadanan dengan panggilan yang telah diterimanya (Efesus 4:1).
Iman tidak hanya berbicara tentang apa yang kita percayai, tetapi juga bagaimana kita hidup. Kita dipanggil untuk berjalan dalam terang, integritas, kasih karunia, kerendahan hati, dan kebenaran. Right believing (kepercayaan yang benar) harus menghasilkan right action (tindakan yang benar). Orang yang sungguh-sungguh mengenal Tuhan akan menunjukkan imannya melalui kehidupan yang benar.
Ketabahan Dibentuk melalui Penderitaan
Dalam Yakobus 5:7–11 Orang percaya diperintahkan untuk bersabar sampai kedatangan Tuhan, seperti seorang petani yang menantikan hasil tanahnya. Ia tidak dapat memaksa hasil muncul seketika; ia harus menunggu hujan dan musim yang tepat. Demikian pula kehidupan iman membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Kita tidak boleh mudah menyerah ketika menghadapi tekanan, ketidakadilan, atau keadaan yang belum berubah. Yakobus kemudian mengarahkan perhatian kepada para nabi dan Ayub sebagai teladan ketekunan. Pada akhirnya, Tuhan menunjukkan bahwa Ia penuh belas kasihan dan penyayang.
Ketabahan bukan sekadar kemampuan menahan masalah. Ketabahan adalah kemampuan untuk tetap setia kepada Tuhan di tengah masalah. Orang percaya tidak dipanggil untuk membalas ketidakadilan dengan kepahitan, bersungut-sungut, atau saling menyalahkan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk meneguhkan hati dan tetap percaya bahwa Tuhan memegang kendali.
Berdiri Teguh dan Tidak Mundur
Teladan yang sangat kuat diberikan melalui para pahlawan Daud dalam 1 Tawarikh 11. Salah seorang pahlawan, Yasobam bin Hakhmoni menghadapi tiga ratus orang dalam satu pertempuran. Dalam bagian berikutnya, Eleazar tetap berdiri bersama Daud ketika orang Filistin datang berperang. Bahkan ketika tentara lainnya melarikan diri, ia tetap mempertahankan sebidang ladang jelai. Puncaknya adalah ketika mereka berdiri teguh, mempertahankan ladang itu, dan memukul kalah orang Filistin. Tuhan memberikan kemenangan yang besar.
Gambaran tersebut menjadi pesan penting bagi orang percaya: jangan mundur hanya karena keadaan menjadi sulit. Peperangan kehidupan berlangsung setiap hari. Ada saat ketika kita harus berdiri dan berkata bahwa kita tidak akan menyerah terhadap apa yang Tuhan percayakan kepada kita.
Jangan Terkalahkan oleh “Percuma”
Salah satu serangan yang paling berbahaya bukan selalu penderitaan itu sendiri, melainkan suara yang mengatakan, “Percuma. Sia-sia.” Suara seperti ini dapat membuat seseorang menyerah terhadap keluarga, pelayanan, panggilan, atau perjuangan yang sedang dijalani. Khotbah mengingatkan bahwa mengikuti Tuhan dan mempertahankan apa yang benar tidak pernah sia-sia.
Ketika hidup berada di luar kendali kita, pertanyaan terpenting bukanlah, “Mengapa ini terjadi?” melainkan “Siapa yang berada di atas takhta?” Tuhan tetap berdaulat. Kesadaran bahwa Kristus memegang kendali memberikan kekuatan untuk terus maju sekalipun keadaan belum berubah.
Karena itu, orang percaya harus menjaga hatinya dari berbagai godaan yang dapat menggoyahkan iman. Ada bahaya 4P: Possession (Kepemilikan), Pleasure (Kesenangan), Prestige (Gengsi), dan Power (Kekuasaan), serta bahaya 4S: Sloth (Kemalasan), Silver (Perak/kekayaan), Self (Diri sendiri/Ego), dan Sex (Sexsualitas). Semua itu menjadi peringatan agar kehidupan orang percaya tidak kehilangan fokus dari Kristus.
Pada akhirnya, Stand Firm in Faith adalah panggilan untuk tetap berdiri teguh. Kita harus mengetahui identitas dan posisi kita di dalam Kristus, berjalan sesuai dengan panggilan Tuhan, hidup dalam kebenaran, serta memiliki ketabahan ketika menghadapi penderitaan. Iman yang sejati tidak terbukti hanya ketika keadaan baik, tetapi ketika kita tetap berdiri saat keadaan sulit.
Hidup ini adalah peperangan, tetapi kita tidak menghadapinya sendirian. Tuhan menyertai umat-Nya. Karena itu, jangan mundur, jangan menyerah, dan jangan percaya pada suara yang mengatakan bahwa semuanya sia-sia. Tetaplah berdiri teguh dalam iman. Tetaplah tekun. Tetaplah setia. Sebab pada akhirnya Tuhan adalah Allah yang penuh kasih, penuh belas kasihan, dan sanggup memberikan kemenangan yang besar. Amin (RCH)