HUKUMAN MATI

HUKUMAN MATI

Selasa
15 September 2026

Bacaan Setahun:
Yes. 36:1–37:38
Gal. 2:1–10
Mzm. 107:23–32

“Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga menyetujui orang-orang yang melakukannya.”
(Roma 1:32 – TB)

Apakah hukuman mati diperbolehkan? Pertanyaan ini sering memunculkan perdebatan. Karena itu, kita perlu bersikap konsisten. Jangan sampai kita mendukung hukuman mati hanya karena terpidananya adalah orang yang kita benci, atau menolaknya semata-mata karena adanya kedekatan emosional. Sebagai orang percaya, sikap kita harus dibangun di atas kebenaran firman Tuhan, bukan perasaan atau kepentingan pribadi.

Di dalam Perjanjian Lama, hukuman mati diatur dengan jelas. Allah telah memperingatkan Adam agar tidak memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Pelanggaran terhadap perintah itu berakibat kematian (Kejadian 2:16–17). Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, Allah juga menegaskan bahwa nyawa manusia sangat berharga (Kejadian 9:6). Selanjutnya, hukum mengenai pembunuhan, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, diatur secara rinci, termasuk adanya kota-kota perlindungan (Keluaran 21:12–36; Bilangan 35:10–34).

Mengapa hukuman mati ada dalam Perjanjian Lama? Pertama, sebagai konsekuensi dosa yang membawa maut. Kedua, sebagai perlindungan terhadap kehidupan manusia agar tidak diperlakukan semena-mena. Ketiga, untuk menegaskan bahwa kehidupan berasal dari Allah sehingga manusia harus menghormati kekudusan hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Dalam Perjanjian Baru, tidak ada pengaturan khusus mengenai pelaksanaan hukuman mati. Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat, melainkan untuk menggenapinya (Matius 5:17). Melalui kematian-Nya di kayu salib, Yesus menunjukkan bahwa hukuman terbesar atas dosa telah ditanggung-Nya. Karena itu, semangat Perjanjian Baru lebih menekankan pertobatan, pengampunan, dan pemulihan. Pengampunan yang diajarkan Kristus bukan berarti mengabaikan keadilan, melainkan membuka jalan bagi manusia untuk bertobat dan mengalami kasih karunia Allah.

Renungan bagi kita hari ini bukan sekadar membahas boleh atau tidaknya hukuman mati, melainkan mengingat bahwa dosa selalu membawa maut, sedangkan anugerah Allah membawa kehidupan. Di dalam Kristus, keadilan dan kasih bertemu di kayu salib. Karena itu, marilah kita menghargai kehidupan, hidup dalam kekudusan, dan memberitakan pengharapan yang hanya ada di dalam Yesus Kristus. (AU)


Questions:

  1. Apakah Anda sudah menghargai kehidupan sebagai anugerah dari Allah?
  2. Bagaimana salib Kristus mengubah cara Anda memandang keadilan dan kasih?

Values:

Kasih yang sejati tidak pernah bertentangan dengan kebenaran; keduanya berjalan bersama dalam hikmat Allah.


Kasih tanpa kebenaran menjadi permisif, tetapi kebenaran tanpa kasih kehilangan hati Allah.