SENIN, 28 SEPTEMBER 2026
MENEMUKAN KEMBALI HATI BAPA
“Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.”
(Lukas 15:20)
Bacaan Setahun:
- Nah. 1:1–3:19
- Ef. 6:1–24
- Mzm. 114:1–8
Menurut Myles Munroe dalam bukunya Rediscovering The Kingdom, salah satu dampak terbesar dari kejatuhan manusia bukanlah kehilangan agama, melainkan kehilangan hubungan dengan Bapa. Ketika Adam memberontak terhadap Allah, manusia kehilangan kesadaran akan identitasnya sebagai anak dan mulai hidup terpisah dari sumber kehidupan. Sejak saat itu, manusia berusaha mencari nilai, tujuan, dan identitas melalui prestasi, kekuasaan, harta, maupun pengakuan orang lain.
Dalam Lukas 15, kita melihat gambaran yang sangat jelas tentang hati Bapa. Anak bungsu meminta bagian warisan yang menjadi haknya, lalu pergi ke negeri yang jauh dan menghabiskan seluruh hartanya dengan hidup berfoya-foya. Ketika kelaparan melanda negeri itu, ia jatuh miskin dan bekerja menjaga babi, bahkan ingin memakan makanan babi karena sangat lapar. Dalam penderitaannya, ia sadar akan kesalahannya dan memutuskan pulang kepada ayahnya dengan hati yang bertobat, siap menjadi seorang upahan karena merasa tidak layak lagi disebut anak.
Namun yang terjadi ketika Sang Bapa melihat anak itu kembali, bapanya berlari menyambutnya, memeluknya, dan memulihkan statusnya sebagai anak. Sang bapa tidak memberikan masa percobaan, tidak menuntut pembuktian, dan tidak menghitung kesalahan masa lalunya. Ia langsung memberikan jubah, cincin, dan kasut—simbol identitas, otoritas, dan hak sebagai anggota keluarga.
Inilah gambaran Sang Bapa di Surga. Bapa tidak mencari hamba yang bekerja untuk mendapatkan kasih-Nya. Bapa mencari anak-anak yang hidup dari kasih-Nya. Banyak orang percaya masih hidup dengan mentalitas yatim piatu. Mereka merasa harus berbuat lebih banyak agar Tuhan mengasihi mereka. Mereka mengukur nilai dirinya berdasarkan pelayanan, keberhasilan, atau pengakuan orang lain. Padahal kasih Bapa tidak diperoleh melalui prestasi; kasih Bapa diterima melalui hubungan.
Menemukan kembali hati Bapa berarti menemukan kembali jati diri kita yang sebenarnya. Kita bukan sekadar orang yang diselamatkan; kita adalah anak-anak Raja. Kita bukan sekadar pengikut agama, kita adalah warga Kerajaan Allah. Identitas ini mengubah cara kita hidup. Kita tidak lagi digerakkan oleh ketakutan, tetapi oleh kasih. Kita tidak lagi berusaha membuktikan diri, tetapi hidup dalam keyakinan bahwa kita sudah diterima.
Hari ini, mungkin ada area dalam hidup kita yang masih dipenuhi rasa tidak aman, penolakan, atau kebutuhan untuk selalu membuktikan diri. Dengarkan kembali suara Bapa yang berkata, “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.” Ketika kita menemukan kembali hati Bapa, kita juga menemukan kembali tujuan, identitas, dan warisan Kerajaan yang telah disediakan bagi kita sejak semula. (RSN)
Questions:
- Apakah dampak terbesar kejatuhan manusia dalam dosa?
- Bagaimana Sang Bapa menyatakan kasih-Nya?
Values:
Saat kita menemukan kembali hati Bapa, kita juga menemukan kembali tujuan, identitas, dan warisan Kerajaan yang telah disediakan bagi kita sejak semula.
Bapa tidak mencari hamba yang bekerja untuk mendapatkan kasih-Nya tetapi mencari anak-anak yang hidup dari kasih-Nya.