PEMIMPIN: DILAHIRKAN ATAU DIAJARKAN?
Rabu 30 September 2026
Bacaan Setahun: Yer. 1:1 – 2:30 Flp. 1:27 – 2:11 Mzm. 115:1–11
“Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap…” (Keluaran 18:21)
Apakah pemimpin dilahirkan atau diajarkan? Banyak orang beranggapan bahwa pemimpin adalah mereka yang sejak lahir memiliki bakat khusus. Alasannya sederhana. Dalam kehidupan sehari-hari kita melihat tidak semua orang memiliki kemampuan memimpin. Bahkan sering kali seseorang menduduki jabatan pemimpin secara formal, tetapi tidak memiliki jiwa kepemimpinan. Sebaliknya, kita juga sering menemukan orang yang tidak memiliki jabatan apa pun, namun mampu memengaruhi, mengarahkan, dan memotivasi banyak orang. Kehadirannya membawa semangat, solusi, dan perubahan. Dari pengamatan inilah muncul kesimpulan bahwa pemimpin lahir karena bakat, bukan karena didikan. Namun benarkah demikian?
Alkitab memberikan perspektif yang menarik. Ketika Musa kewalahan memimpin bangsa Israel yang jumlahnya sangat besar, Yitro, mertuanya, menyarankan agar dipilih orang-orang tertentu untuk membantu memimpin. Menariknya, kriteria yang diberikan bukanlah orang yang paling pintar atau paling kuat, melainkan orang yang cakap, takut akan Allah, dapat dipercaya, dan memiliki integritas (Keluaran 18:21). Perhatikan bahwa sebagian besar kriteria tersebut bukan bakat bawaan lahir, melainkan karakter yang dibentuk melalui proses kehidupan.
Pakar kepemimpinan Noel Tichy pernah berkata bahwa “leaders are made, not born”—pemimpin dibentuk, bukan dilahirkan. Pernyataan ini ada benarnya. Namun mengatakan bahwa kepemimpinan murni hasil pendidikan juga tidak sepenuhnya tepat. Di sisi lain, menganggap kepemimpinan hanya soal bakat sejak lahir juga tidak benar. Kepemimpinan lahir ketika seseorang terus-menerus merespons dengan benar. Setiap tanggung jawab yang diemban, setiap pengorbanan yang dilakukan, setiap kesulitan yang dihadapi, dan setiap keputusan yang diambil dengan integritas sedang membentuk jiwa seorang pemimpin.
Itulah sebabnya nilai-nilai kepemimpinan perlu ditanamkan sejak dini. Anak yang diajar bertanggung jawab akan lebih mudah belajar memimpin. Anak yang dibiasakan melayani akan lebih mudah mengerti arti pengorbanan. Anak yang dibentuk untuk menghormati orang lain akan lebih siap memimpin dengan hati. Bakat mungkin membuka pintu, tetapi karakterlah yang menentukan seberapa jauh seseorang dapat memimpin.
Karena itu, jangan hanya berdoa agar memiliki pemimpin yang baik. Mulailah membangun nilai-nilai kepemimpinan dalam diri kita dan generasi berikutnya. Sebab pemimpin sejati bukan sekadar orang yang memiliki jabatan, melainkan orang yang telah menjadikan tanggung jawab, integritas, dan pelayanan sebagai bagian dari “DNA” kehidupannya. Pemimpin besar tidak muncul secara kebetulan. Mereka dibentuk melalui proses, pilihan, dan kesetiaan menjalani nilai-nilai yang benar setiap hari. (DD)
Questions:
- Nilai kepemimpinan apa yang saat ini sedang Tuhan bentuk dalam hidup Anda?
- Apakah Anda sudah menggunakan pengaruh yang Tuhan berikan untuk melayani dan membangun orang lain?
Values:
Kepemimpinan sejati lahir ketika seseorang terus-menerus merespons setiap proses kehidupan dengan karakter yang benar.
Bakat dapat menjadi modal awal, tetapi integritas, tanggung jawab, kerendahan hati, dan kesediaan melayani adalah kualitas para pemimpin yang harus dibentuk dan dipraktikkan setiap hari.