HAMBA YANG SETIA
“Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercaya.” (1 Korintus 4:2 – TB)
Bacaan Setahun:
Yer. 6:1–7:29
Flp. 4:2–23
Ams. 24:5–14
Apa arti hamba yang setia? Hamba yang setia berarti tetap taat, tetap melayani, tetap bertanggung jawab, dan tetap melakukan kehendak Tuhan, baik ketika dilihat orang maupun ketika tidak ada seorang pun yang memperhatikan. Kesetiaan bukan hanya tentang berapa lama kita melayani, tetapi tentang bagaimana kita menjalankan kepercayaan Tuhan dengan hati yang benar. “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia…” (Matius 25:21). Sadarlah bahwa Tuhan sangat menghargai kesetiaan, bukan sekadar keberhasilan yang terlihat di depan mata.
Mengapa kita harus menjadi hamba yang setia? Pertama, karena kita adalah milik Kristus yang telah ditebus oleh darah-Nya, sehingga hidup kita bukan lagi untuk kepentingan diri sendiri. 1 Korintus 6:19–20, yang mengingatkan bahwa kita telah dibeli dengan harga yang mahal. Karena itu, sudah selayaknya hidup kita dipersembahkan untuk Tuhan. Kedua, karena kesetiaan menunjukkan karakter kita. Kemampuan dapat membuat seseorang dipercaya untuk memulai sesuatu, tetapi karakter dan kesetiaan membuat seseorang dipercaya untuk terus menjalankannya. “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10). Ketiga, karena ada upah bagi hamba yang setia. Kesetiaan kita tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan dan Tuhan melihat apa yang sering tidak dilihat manusia.
Bagaimana menjadi hamba yang setia? Pertama, setia kepada Tuhan sebelum setia kepada pelayanan. Jangan sampai kita sibuk mengerjakan pekerjaan Tuhan tetapi kehilangan hubungan dengan Tuhan. Kedua, setia dalam perkara kecil. Mulailah dari hal sederhana: hadir tepat waktu, menepati janji, menyelesaikan tanggung jawab, menjaga perkataan dan menghormati sesama. Jaga integritas dalam pelayanan, keuangan, hubungan, waktu, dan kehidupan pribadi. Ketiga, tetap setia dan jangan berhenti ketika tidak dihargai. Kesetiaan yang sejati tidak bergantung pada pujian, posisi, atau penghargaan manusia.
Contoh kesetiaan di dalam Alkitab: Yusuf — setia dalam segala keadaan. Yusuf tetap setia kepada Tuhan meskipun dijual sebagai budak, difitnah, dan dipenjara. (Kejadian 39:2–4, 21–23) — Tuhan menyertai Yusuf dan membuatnya berhasil. Ketahuilah bahwa suatu hari nanti Tuhan tidak akan bertanya, “Seberapa banyak yang engkau kerjakan?” Tetapi Dia sudah tahu bagaimana hidup kita sendiri yang akan berbicara tentang apakah kita telah menjadi hamba yang baik dan setia.
Kiranya ketika Tuhan mempercayakan perkara-perkara kecil maupun perkara-perkara besar kepada kita, Dia menemukan hati yang berkata: “Tuhan, apa pun yang Engkau percayakan kepadaku, aku akan menjalaninya dengan setia dan penuh tanggung jawab.” (TL)
Questions:
- Dalam area apa dalam hidup atau pelayanan kita saat ini Tuhan sedang menguji kesetiaan kita?
- Apa satu tindakan nyata yang dapat kita lakukan minggu ini untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba yang dapat dipercaya? Diskusikan!
Values:
Tuhan mencari hamba yang setia; sebab kesetiaan dalam perkara kecil adalah bukti bahwa kita dapat dipercaya dalam perkara besar.
Nilai seorang hamba Tuhan tidak diukur dari seberapa besar panggungnya, tetapi dari seberapa dalam integritas dan kesetiaannya ketika menjalankan kepercayaan Tuhan.