ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
Bacaan Setahun:
1 Pet. 4
Yer. 37-38
Mzm. 137
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4)
Paul G. Stoltz pada tahun 1997 memperkenalkan teori kecerdasan menghadapi kesulitan (Adversity Quotient – AQ), yang menggambarkan kemampuan seseorang dalam menghadapi kesulitan, tantangan, tekanan, atau masalah dalam hidup maupun pekerjaan. Seseorang dengan AQ yang tinggi memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tantangan hidup. Ia akan lebih tangguh, optimis, dan solutif saat menghadapi kesulitan, sedangkan orang dengan AQ rendah cenderung mudah menyerah atau terpuruk.
Sebelum istilah Adversity Quotient (AQ) diperkenalkan, Alkitab sudah lebih dulu banyak mengajarkan tentang ketabahan, daya tahan, dan sikap menghadapi kesulitan. Kehidupan Kristen adalah sebuah perlombaan yang memerlukan komitmen untuk berlari dengan fokus dan daya tahan. Kita diselamatkan tidak hanya untuk mengalami dan menikmati kehidupan kekal bersama Allah, tetapi kita juga dipanggil untuk mewakili surga di bumi yang penuh dengan penderitaan dan tantangan iman. Justru ketika kita sungguh-sungguh mengikut Kristus bukan berarti akan bebas dari masalah, tetapi akan semakin banyak tantangan karena kesetiaan kita kepada Kristus (Yohanes 16:33).
Di sinilah kita butuh iman, ketekunan dan pengharapan supaya kita dapat bertahan dan tidak goyah. Kita hanya bisa bertahan kalau punya iman, ketekunan dalam menghadapi penderitaan dan pengharapan akan janji-janji Tuhan. Dengan iman kita percaya bahwa Allah senantiasa memimpin perjalanan hidup kita. Dengan ketekunan kita akan terus melangkah sekalipun perjalanan begitu berat dan dengan pengharapan akan membuat hati kita terarah pada janji-janji Tuhan.
Rasul Paulus adalah contoh nyata orang yang hidup dengan iman, memiliki ketekunan dan pengharapan sehingga menghasilkan ketangguhan saat menghadapi kesulitan. Setelah bertobat, Paulus percaya penuh bahwa hidupnya adalah milik Kristus. Galatia 2:20 menyatakan “…bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku…” Rasul Paulus juga berkali-kali menghadapi bahaya dalam pelayanan. Meski demikian, ia tetap setia dan tekun mengabarkan Injil sampai akhir hidupnya. Paulus tahu bahwa penderitaan di dunia hanya sementara, itulah sebabnya Paulus bisa berkata dalam Filipi 4:13: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Rasul Paulus juga memiliki pengharapan pada janji Allah dan mahkota kekekalan sehingga penderitaan dunia tidak membuatnya putus asa. Ia berkata: Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Filipi 1:21). Bahkan di akhir hidupnya ia juga berkata: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik… sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran…” (2 Timotius 4:7-8). Pengharapan inilah yang membuat Rasul Paulus tidak goyah dan taat sampai mati. (RSN)
Questions:
1. Bagaimana kita meningkatkan Adversity Quotient di dalam hidup kita?
2. Bagaimana Rasul Paulus hidup dengan iman, ketekunan dan pengharapan?
Values:
Kita hanya bisa bertahan menghadapi kesulitan dan aniaya jika kita punya iman, ketekunan dalam menghadapi penderitaan dan pengharapan akan janji-janji Tuhan.
Kingdom Quotes:
Iman + ketekunan + pengharapan = ketangguhan menghadapi kesulitan dan aniaya.