Akedah | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Kata Abraham kepada kedua bujangnya itu: “Tinggallah kamu di sini dengan keledai ini; aku beserta anak ini akan pergi ke sana; kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.”  Lalu Abraham mengambil kayu untuk korban bakaran itu dan memikulkannya ke atas bahu Ishak, anaknya, sedang di tangannya dibawanya api dan pisau. Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. (Kejadian 22:5-6)

Tema bulan ini adalah Family of Worship (Keluarga yang Menyembah). Hubungan manusia dengan Tuhan sudah dimulai sejak manusia pertama diciptakan, namun Adam gagal memimpin keluarganya sehingga dosa masuk ke dalam dunia. Kain mempersembahkan korban yang tidak berkenan kepada Allah, sedangkan Habel memberikan persembahan yang lebih baik karena didasari iman. Setelah itu muncul Nuh, seorang yang hidup benar, bergaul dengan Allah, dan membangun mezbah setelah keluar dari bahtera. Namun kehidupan Nuh juga menunjukkan bahwa seseorang dapat memulai dengan Roh tetapi mengakhiri dengan kelemahan daging ketika ia jatuh ke dalam kemabukan. Oleh sebab itu kehidupan perjalanan iman kita harus dijaga sampai akhir.

Ada empat tingkatan penyembahan. Pertama adalah offering (minhah), yaitu persembahan. Kedua sacrifice (zebah), yaitu korban yang mengandung pengorbanan. Ketiga adalah altar (mizbeah) sebagai tempat penyerahan hidup kepada Tuhan. Puncaknya adalah worship (saha), yaitu penyembahan yang melibatkan seluruh hidup. Tuhan tidak hanya mencari pemberian manusia, tetapi hati yang rela menyerahkan segala sesuatu bagi-Nya.

Di dalam Kejadian 22, kita akan belajar melalui kehidupan Abraham bahwa penyembahan bukan sekadar nyanyian, doa, atau persembahan, melainkan penyerahan total kepada Allah. Akedah (Aqedah) dalam bahasa Ibrani berarti mengikat. Mengacu pada tindakan Abraham mengikat Ishak di atas mezbah sebagai persiapan mempersembahkannya kepada Allah. Kisah ini adalah puncak perjalanan iman yang telah dimulai sejak zaman Nuh, ketika mezbah pertama kali dibangun sebagai lambang penyembahan kepada Tuhan.

Kehidupan Abraham adalah contoh teladan iman. Penulis kitab Ibrani mencatat bagaimana kehidupan Iman Abraham (Ibrani 11:8-11), Abraham taat ketika dipanggil keluar tanpa mengetahui tujuan akhirnya. Ia hidup di kemah sebagai tanda bahwa dunia ini hanyalah tempat persinggahan sementara. Sekalipun janji Tuhan terasa mustahil karena usianya dan Sara sudah lanjut, Abraham tetap percaya bahwa Allah setia menggenapi firman-Nya. Iman sejati tetap bertahan bahkan ketika keadaan tampak tidak mungkin.

Lalu Abraham menanam sebatang pohon tamariska di Bersyeba, dan memanggil di sana nama TUHAN, Allah yang kekal. Dan masih lama Abraham tinggal sebagai orang asing di negeri orang Filistin. (Kejadian 21:33-34)

Sebelum ujian terbesar datang, Abraham memperoleh pewahyuan tentang Allah sebagai El Olam, Allah yang kekal. Setelah mengenal Tuhan, datanglah ujian iman. Kejadian 22 menunjukkan bahwa setiap pewahyuan akan diikuti oleh proses pembuktian. Allah tidak mencobai untuk menjatuhkan, tetapi menguji kualitas iman umat-Nya. Sama seperti sebuah bangunan diuji kekuatannya sebelum digunakan, demikian pula kehidupan orang percaya akan mengalami “pembebanan” agar nyata kualitas imannya.

Respons Abraham menjadi teladan. Ketika Allah memanggilnya, ia menjawab, “Hineni”—”Ya Tuhan, inilah aku.” Jawaban itu bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap hati yang siap taat tanpa syarat. Ketika diperintahkan mempersembahkan Ishak, Abraham tidak berunding, tidak menunda, dan tidak mencari alasan. Alkitab mencatat bahwa keesokan paginya ia bangun pagi-pagi dan segera berangkat. Ketaatan yang sejati tidak menunggu keadaan menjadi mudah, melainkan bertindak segera ketika Tuhan berfirman.

Dalam perjalanan menuju Gunung Moria, Abraham mengucapkan kalimat iman yang sangat penting: “ kami akan sembahyang, sesudah itu kami kembali kepadamu.” Pernyataan ini menunjukkan keyakinannya bahwa Allah sanggup membangkitkan Ishak sekalipun ia harus dikorbankan. Penyembahan sejati selalu lahir dari iman kepada Allah yang sanggup melakukan perkara yang mustahil.

Ketika Ishak bertanya: “Di manakah anak domba?”, Abraham menjawab: “Allah sendiri yang akan menyediakan.” Lalu sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api. Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau untuk menyembelih anaknya. Namun Pada saat terakhir malaikat Tuhan menghentikannya. Abraham melihat seekor domba jantan di belakangnya, yang tanduknya tersangkut dalam belukar. Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai korban bakaran pengganti anaknya.

Kisah Akedah juga dipahami sebagai gambaran tentang Yesus Kristus. Ishak memikul kayu menuju tempat pengorbanan sebagaimana Yesus memikul salib menuju Golgota. Namun pada akhirnya bukan Ishak yang dikorbankan. Allah menyediakan seekor domba jantan sebagai pengganti. Ishak hidup karena seekor domba mati menggantikannya. Peristiwa ini menunjuk kepada Kristus sebagai Anak Domba Allah yang menjadi korban penebus dosa dunia. Karena itu pusat penyembahan Kristen bukanlah Abraham atau Ishak, melainkan Yesus Kristus yang menyerahkan diri-Nya bagi umat manusia.

Setelah Abraham lulus ujian, ia menamai tempat itu Jehovah Jireh—”Tuhan menyediakan.” Nama ini mengajarkan bahwa penyediaan Allah ditemukan di tempat ketaatan. Ketika seseorang berani mempercayakan yang paling berharga kepada Tuhan, Allah menunjukkan diri-Nya sebagai Pribadi yang mencukupi segala kebutuhan umat-Nya. Penyediaan Tuhan bukan hanya bersifat materi, tetapi juga mencakup pemeliharaan, pertolongan, dan penggenapan janji-Nya.

Sebagai hasil ketaatan, Allah memperbarui janji-Nya kepada Abraham: memberkatinya berlimpah-limpah, memperbanyak keturunannya seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut, serta menjadikan semua bangsa menerima berkat melalui keturunannya.  Janji ini digenapi melalui kehadiran Yesus Kristus di dunia, karena melalui kematan dan kebangkitan-Nya seluruh dunia menerima keselamatan.

Mari bangun hidup kita menjadi penyembah sejati. Penyembahan bukan hanya aktivitas pada hari Minggu, tetapi gaya hidup yang ditandai oleh kedekatan dengan Tuhan, ketaatan, kesiapsediaan melayani, kekudusan, dan kesediaan menyerahkan yang terbaik bagi Allah. Orang yang hidup sebagai penyembah akan tetap bersinar di tengah dunia yang gelap, menjadi saluran berkat bagi banyak orang, serta mengalami bahwa Tuhan selalu menyediakan bagi mereka yang hidup dalam iman dan ketaatan.  Amin. (RCH)