AKULAH GEMBALA YANG BAIK

AKULAH GEMBALA YANG BAIK 

Bacaan Setahun:
1Samuel 8:1 – 10:8
Yohanes 12:12–26
Mazmur 65:1–13

“Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu”. (Yohanes 10:11-12)

Dalam dunia ini, kita sering melihat berbagai model kepemimpinan. Salah satunya adalah model kepemimpinan yang berorientasi pada kuasa: siapa yang kuat, dia yang berkuasa. Namun Yesus datang ke dunia memperkenalkan sebuah kepemimpinan yang berbeda dengan dunia ini. Ia datang bukan sebagai raja yang menuntut dilayani, tetapi sebagai Gembala yang memberikan hidup-Nya.

Dalam perspektif Kerajaan Allah, Yesus bukan hanya Juruselamat, tetapi Ia juga Raja yang memerintah di dalam kehidupan umat-Nya. Namun cara Ia memerintah bukan dengan paksaan, melainkan dengan kasih, pengorbanan, dan hubungan pribadi yang intim dengan umat-Nya. Ia mengenal setiap domba-Nya, dan domba-domba-Nya mengenal suara-Nya. Suara Gembala yang sejati menuntun kita kepada ketaatan, bahkan ketika situasi tidak mudah. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya dalam bahaya – pencuri dan serigala, tetapi berjalan bersama mereka, bahkan melalui lembah kekelaman sekalipun. Artinya, keamanan bukan karena situasi tanpa ancaman, tetapi karena kehadiran Sang Gembala.

Jika dihubungkan dengan kisah perumpamaan tentang domba yang hilang dalam injil Lukas 15:1-7, Gembala yang baik tidak hanya menjaga yang sudah ada, tetapi aktif mencari yang hilang. Ia tidak menunggu domba itu kembali sendiri, tetapi pergi, mencari, dan membawanya pulang dengan penuh sukacita.

Tuhan Yesus juga memperingatkan kita tentang “gembala palsu” seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri yang hanya hadir selama ada keuntungan. Di zaman ini, “gembala palsu” kadang tidak selalu terlihat jelas. Mereka bisa hadir dalam bentuk pengajaran yang memanjakan telinga, kepemimpinan yang berpusat pada diri sendiri atau ambisi pribadi, pelayanan yang lebih mengejar popularitas daripada kebenaran. Mereka berbicara tentang berkat, tetapi mengabaikan pertobatan. Mereka menjanjikan kenyamanan, tetapi menjauhkan dari salib.

Sebagai perwakilan Kerajaan Allah, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi juga untuk mengenal suara Sang Gembala Agung kita, peka terhadap pimpinan-Nya dan tidak mengikuti suara asing. Kedekatan dengan-Nya adalah perlindungan terbaik dari penyesatan. Seringkali kita menjadi seperti sembilan puluh sembilan domba yang masih ada—merasa aman, tetapi lupa bahwa hati Tuhan selalu tertuju pada mereka yang masih tersesat. Kerajaan Allah bukan hanya tentang mempertahankan yang ada, tetapi tentang menyelamatkan yang hilang, memimpin dengan melayani dan berkorban, bukan “pencuri rohani” yang mencari keuntungan dan menguasai. Fokuslah membangun relasi dengan Kristus, bukan sekedar rutinitas dan ritual agamawi. (RSN)

Questions:
1. Bagaimana Gembala yang Baik menjaga hidup kita?
2. Suara siapa yang kita ikuti? Apakah kita peka membedakan suara Sang Gembala dengan suara yang hanya menyenangkan hati?

Values:
Suara Gembala yang sejati menuntun kita kepada ketaatan, bahkan ketika situasi tidak mudah, Ia tidak hanya menjaga yang sudah ada, tetapi aktif mencari yang hilang.

Kingdom Quotes:
Kerajaan Allah bukan hanya tentang mempertahankan yang ada, tetapi tentang menyelamatkan yang hilang dan memimpin dengan melayani dan berkorban.