AMBISI YANG TERSELUBUNG
Bacaan Setahun:
2Raja-raja 4:38 – 6:23
Kisah Para Rasul 21:27 – 22:22
Mazmur 79:1–13
“Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.” (Lukas 22:24 – TB)
Menjelang salib-momen paling menentukan dalam sejarah penebusan-justru muncul suara yang sumbang di antara para murid: perebutan posisi. Di saat Sang Guru sedang bergerak menuju pengorbanan diri, para pengikut-Nya sibuk memperjuangkan pengakuan diri. Ini bukan sekadar miskomunikasi, ini benturan dua kerajaan: Kerajaan Allah dan kerajaan ego.
Apa yang terjadi di ruangan itu bukan perkara kecil. Peristiwa tersebut merupakan gema dosa sejak zaman dahulu, yaitu keinginan manusia untuk “menjadi seperti Allah” (Kejadian 3:5). Ambisi untuk menjadi yang terbesar bukanlah sesuatu yang netral; ambisi itu berakar pada natur manusia yang belum disalibkan. Dalam terang Kerajaan Allah, kebesaran tidak pernah diukur dari jabatan atau kedudukan, melainkan dari kesediaan untuk mengambil bagian dalam pola hidup Kristus, yaitu hidup yang rela berkorban dan memikul salib.
Yesus tidak membatalkan misi-Nya karena kegagalan murid-murid memahami-Nya. Sebaliknya, la menyingkapkan ulang definisi kebesaran: yang terbesar adalah dia yang melayani (Lukas 22:26-27). Melalui perkataan itu, Injil menyingkapkan motivasi tersembunyi dalam hati manusia. Seseorang dapat berada dekat secara fisik dengan Yesus, tetapi tetap jauh secara rohani dari hati-Nya.
Realitas ini tidak berhenti pada abad pertama. Ambisi yang sama masih terus bekerja hingga hari ini, bahkan sering kali muncul dalam bentuk yang lebih halus dan religius. Orang tidak lagi bertengkar secara terbuka, tetapi berlomba mencari pengaruh, pengakuan, dan panggung pelayanan. Pelayanan yang seharusnya menjadi wujud kasih dan penyerahan diri dapat berubah menjadi sarana eksistensi diri, bukan ekspresi penyerahan diri. Akibatnya, kemurnian hati perlahan memudar dan fokus hidup tidak lagi tertuju kepada Tuhan, melainkan kepada kepentingan pribadi.
Kerajaan Allah bekerja dengan prinsip yang berbeda dari dunia. Jalan menuju ketinggian dimulai dari kerendahan hati. Kemuliaan lahir dari kehidupan yang rela merendahkan diri. Tanpa kematian terhadap ego, tidak akan ada manifestasi kehidupan Kristus yang nyata. Inilah prinsip salib yang tidak dapat ditawar. Karena itu, panggilan kita bukanlah menjadi yang terbesar, melainkan menjadi serupa dengan Kristus. Kerendahan hati bukan sekadar aksesori rohani, melainkan dasar kehidupan orang percaya. Dunia memang memahkotai yang paling tenar, tetapi Bapa berkenan kepada mereka yang tersembunyi dan hancur hati. Di situlah Kristus dimanifestasikan sepenuhnya. (DH)
Questions:
1. Apakah motivasi pelayanan dan hidup rohani Anda sungguh untuk memuliakan Kristus, atau masih ada keinginan untuk dipuji dan diakui?
2. Sudahkah Anda hidup dalam pola salib dengan belajar menyangkal diri, rendah hati, dan melayani orang lain setiap hari?
Values:
Kerajaan Allah tidak dibangun oleh mereka yang ingin terlihat besar, tetapi oleh mereka yang rela menjadi kecil.
Kingdom Quotes:
Ambisi rohani yang tidak disalibkan akan selalu mencari panggung, bukan salib.