ANAK MANUSIA, DOMBA PASKAH
Bacaan Setahun:
Ulangan 1:1 – 2:23
Lukas 9:57 – 10:24
Mazmur 41:1–6
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45) “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.” (Matius 26:2)
Beberapa teman yang tidak seiman pernah berkata kepada saya, “Kristen itu tidak rasional. Masa beriman tidak pakai logika? Katanya Yesus itu Anak Allah. Masa Allah punya anak?” Saya tersenyum. Biasanya persoalannya bukan pada logika, tetapi pada cara memahami istilahnya. Banyak orang langsung membayangkan “anak” secara biologis. Padahal dalam iman Kristen, sebutan Anak Allah bukan berarti Allah “beranak” secara fisik. Itu bahasa rohani — bahasa pewahyuan.
Kolose 1:15 menyebut Yesus sebagai “gambar Allah yang tidak kelihatan.” Allah itu Roh. Tidak terlihat oleh mata manusia. Yohanes 1:18 berkata tidak seorang pun pernah melihat Allah. Karena itu Allah menyatakan diri-Nya dalam pribadi Yesus. Maka wajar jika Yesus berkata dalam Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” Artinya sederhana namun dalam: melihat hidup Yesus = melihat siapa Allah itu. Melihat Melihat kasih-Nya, kekudusan-Nya, belas kasihan-Nya-itulah hati Allah.
Sebagian orang bertanya, “Jika demikian, mengapa Yesus menyebut diri-Nya Anak Manusia? Bukankah itu itu berarti la hanya manusia biasa?” Di sinilah sering terjadi kesalahpahaman. Dalam konteks Yahudi, istilah Anak Manusia adalah gelar mesianik, yakni sebutan bagi Pribadi yang diutus Allah dan diberi otoritas ilahi, Yesus sendiri menyatakan bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa (Matius 9:6). Manusia biasa tidak memiliki kuasa tersebut. Namun Yesus melakukannya, bahkan menyembuhkan orang buta dan membangkitkan orang mati. Sebutan itu bukan merendahkan diri-Nya, melainkan menegaskan identitas-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan.
Lalu muncul pertanyaan yang paling sulit: “Kalau Yesus begitu istimewa, kenapa malah mati disalibkan?” Justru di sanalah puncaknya. Roma 3:23 menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Dosa bukan sekadar kesalahan kecil; dosa adalah pelanggaran terhadap kekudusan Allah. Dalam tradisi Yahudi, setiap tahun ada korban Paskah-hewan tak bercacat disembelih sebagai simbol penanggungan dosa. Tetapi itu hanya bayangan. Yesus datang bukan sebagai simbol, la datang sebagai Domba Paskah yang sejati. Ibrani 10:10 menegaskan bahwa korban-Nya dilakukan sekali untuk selama-lamanya. Tidak berulang. Tidak perlu ditambah. Tidak bisa digantikan.
Di kayu salib, dua hal yang tampak bertentangan bertemu: Keadilan Allah dan kasih Allah. Keadilan berkata: dosa harus dihukum. Kasih berkata: manusia harus diselamatkan. Bayangkan seorang hakim yang adil. Anaknya sendiri melanggar hukum. la tidak bisa menghapus hukum itu. Tetapi karena kasih, ia sendiri yang membayar hukuman tersebut. Itulah yang Allah lakukan dalam Kristus. Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Bukan untuk mengambil, tetapi untuk menyerahkan. Bukan untuk menghindari salib, tetapi untuk memikulnya. (DD)
Questions:
1. Jika Yesus adalah Allah yang hidup, masihkah Anda menganggap-Nya sekadar tokoh?
2. Jika la telah menebus Anda, masihkah Anda mempertahankan cara hidup yang lama tanpa anugerah-Nya?
Values:
Yesus Anak Manusia bukan kontradiksi, melainkan Allah merendahkan diri untuk menebus dan memulihkan manusia berdosa kepada kemuliaan-Nya.
Kingdom Quotes:
Keselamatan datang bagi yang menerima Sang Domba Paskah, yang menebus hidup berdosa menjadi hidup surgawi.