ANANIAS DAN SAFIRA, PENDUSTA TUHAN
Bacaan Setahun:
1 Yoh. 2, 2 Taw. 35, Mzm. 89:38-52
“Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamu berdusta seorang kepada sesamanya.” (Imamat 19:11)
Di dalam Perjanjian Baru, kita menemukan tokoh yang mati karena dosanya, yaitu Ananias dan Safira. Mengapa Tuhan menghukum mereka sedemikian berat, padahal yang mereka berikan adalah hasil penjualan tanah mereka sendiri? Bukankah niat memberi itu sudah cukup baik?
Kita perlu mengetahui latar belakang kisah ini (baca Kisah Para Rasul 5:1–11). Saat itu, jemaat mula-mula hidup dalam kesatuan dan berbagi segala sesuatu. Mereka menganggap semua milik adalah milik bersama, dan ciri khas orang yang sungguh-sungguh mengikut Tuhan adalah tidak menjadikan harta sebagai prioritas utama dalam hidupnya. Namun, tidak demikian dengan Ananias dan Safira. Rasa cinta akan uang membuat mereka merencanakan tindakan jahat, yaitu berdusta. Dusta itu ditunjukkan dengan sikap berpura-pura telah memberikan seluruh hasil penjualan tanah mereka, padahal sebagian ditahan dengan sengaja dan penuh kesadaran. Jadi, bukan jumlah uang yang menjadi masalah, tetapi sikap kepura-puraan dan ketidakjujuran mereka yang mencemari hati dan menghina kekudusan Allah.
Petrus berkata bahwa selama tanah itu belum dijual, itu tetap milik mereka. Setelah dijual pun, hasilnya masih dalam kuasa mereka. Artinya, jika mereka hanya ingin memberi sebagian, itu bukan masalah. Masalahnya adalah mereka mengaku memberikan seluruh hasil, padahal tidak. Mereka mencoba menipu manusia dan mempermainkan Tuhan yang Mahatahu. Sikap itu ditentang Tuhan. Ketika Petrus menegur mereka, Ananias dan Safira langsung mati. Ini menunjukkan bahwa dosa membawa hukuman, dan upah dosa adalah maut (Roma 6:23). Tuhan bertindak tegas agar ketidakjujuran tidak menyebar dalam jemaat dan menjadi pelajaran penting bagi orang percaya: bahwa nilai kejujuran di hadapan Tuhan tidak bisa ditawar.
Mungkin kita pernah bertindak tidak jujur dalam hidup ini, dan kita mengira tidak ada yang tahu. Tapi ingatlah, Tuhan Mahatahu! Ketidakjujuran bukan hanya mendatangkan hukuman Tuhan, tetapi juga menjadi penghalang terkabulnya doa-doa kita. “Orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang berlaku setia dikenan-Nya” (Amsal 12:22). Karena itu, marilah kita menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh. Ketidakjujuran berasal dari hati yang tidak bersih. Mari buang segala dusta, hidup dalam kebenaran, dan terus bertumbuh dalam kekudusan yang Tuhan kehendaki atas hidup kita setiap hari. (AU)
Questions:
1. Apakah Anda sedang hidup dalam kejujuran penuh di hadapan Tuhan dan sesama?
2. Sudahkah Anda menyadari bahwa Tuhan tahu isi hati dan semua perbuatan Anda?
Values:
Ketidakjujuran, sekecil apa pun, bisa mendatangkan konsekuensi serius dan merusak kesaksian iman kita.
Kingdom Quotes:
Tuhan tidak menuntut jumlah, tetapi kejujuran hati dalam memberi dan hidup.