ANDAI BISA MEMILIH
Bacaan Setahun:
Bilangan 23:27 – 25:18
Lukas 7:11–35
Mazmur 38:1–11
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11)
Kondisi bangsa kita saat ini tampak jauh dari membanggakan. Korupsi, penyalahgunaan narkoba, pertikaian antarkelompok, serta penanganan berbagai bencana alam yang masih belum ideal, menjadi realitas yang kita hadapi. Namun, betapapun buruknya keadaan negeri ini, satu hal yang pasti: Tuhan telah menetapkan kita lahir sebagai bangsa Indonesia.
Bangsa israel pada masa nabi Yeremia pun pernah mengalami masa yang sangat sulit. Mereka hidup sebagai orang buangan di negeri asing. Melalui Yeremia, Tuhan menyatakan bahwa keberadaan mereka di Babel merupakan bagian dari rencana-Nya. Oleh karena itu, mereka diperintahkan untuk tetap mengusahakan dan mendoakan kesejahteraan kota tempat mereka dibuang (Yeremia 29:7). Tuhan memiliki rencana yang indah, bahkan di tengah tekanan politik dan ekonomi yang begitu berat. Tuhan tidak menghendaki bangsa israel hanya berpangku tangan dan meratapi nasib, melainkan bekerja dan menjadi berkat di tengah bangsa Babel.
Demikian pula dengan kita. Ada alasan mengapa Tuhan menempatkan kita di Indonesia. Tuhan tidak menginginkan kita hanya mengeluh dan mengkritik tanpa berkontribusi bagi kesejahteraan bangsa. Dalam Yeremia 29:11, Tuhan menegaskan bahwa rencana-Nya adalah rencana damai sejahtera bagi umat-Nya. Kita tidak bisa memilih kapan dan di mana kita dilahirkan, tetapi kita bisa memilih bagaimana kita akan bersikap. Akankah kita terus mengeluh, atau bangkit dan bekerja sama dengan Tuhan mewujudkan rencana damai sejahtera bagi Indonesia?
Manusia memang cenderung lebih mudah mengeluh atau bersungut-sungut daripada bersyukur, lebih mudah melihat hal-hal yang kurang daripada hal-hal baik dalam hidupnya. Seperti sikap bangsa Israel; kasih dan pemeliharaan Tuhan sungguh luar biasa, namun mereka malah menduakan Tuhan dan menyembah berhala, sehingga akhirnya Tuhan membiarkan mereka menjadi budak di negeri Babel. Sikap suka mengeluh ini tidak ada gunanya. Tuhan juga tidak senang, karenanya sikap suka mengeluh ini harus dilawan, dipangkas, dibersihkan, jangan dituruti, apalagi dijadikan kebiasaan. Caranya, fokuskan pikiran pada hal-hal yang baik dalam hidup ini, dan berusahalah untuk selalu berpikir dan berkata positif.
Jika kita diberi kesempatan untuk memilih, apakah yang akan kita pilih? Apakah kita akan memilih untuk berdoa dan mengupayakan kesejahteraan kota tempat kita tinggal, atau justru memilih menjadi pengkritik yang terus mengeluhkan keadaan? Pilihan itu ada di tangan kita. (AU)
Questions:
1. Apakah sikap hidup kita lebih banyak membangun kesejahteraan kota, atau sekadar mengeluhkan keadaannya?
2. Sudahkah kita terlibat aktif dalam rencana damai sejahtera Tuhan bagi bangsa ini?
Values:
Kita dipanggil untuk tidak hanya mengkritik keadaan, tetapi mengambil bagian nyata dalam mengupayakan kesejahteraan bangsa sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan.
Kingdom Quotes:
Kita tidak memilih di mana kita dilahirkan, tetapi kita bertanggung jawab memilih sikap yang memuliakan Tuhan di tempat kita ditempatkan.