ANDALAH YANG MENENTUKAN

ANDALAH YANG MENENTUKAN 

Bacaan Setahun:

Yoh. 7:25-52
1 Taw. 29
Zak. 13

“Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: “Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas. Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.” (Kejadian 27:39-40)

Dalam hidup ini, kita mengenal istilah takdir, kodrat, dan nasib. Tiga kata yang sering kali dipakai secara bergantian, meski maknanya berbeda. Takdir adalah ketetapan Tuhan yang tidak dapat diubah. Kodrat adalah kekuasaan Tuhan yang melekat pada ciptaanNya. Sedangkan nasib, meskipun juga berasal dari Tuhan, adalah bagian yang masih bisa diubah oleh manusia melalui usaha dan pilihan.

Dalam Ensiklopedi Umum dijelaskan bahwa ada sebuah ajaran atau paham yang percaya bahwa semua keadaan atau perbuatan seseorang sudah ditentukan lebih dahulu oleh nasib (fatum). Manusia tidak dapat atau tidak akan berhasil mengubah jalannya keadaan atau perbuatannya, walaupun ia atau orang lain berusaha ke arah itu. Sisi positif dari paham ini adalah membuat orang tidak ngotot dan tidak serakah dalam memperjuangkan sesuatu dan menjadikannya ”nrimo” dengan apa yang diperolehnya. Tetapi, sisi negatifnya yang sangat fatal adalah tidak ada usaha untuk mengubah keadaan dirinya atau tidak ada usaha untuk lebih maju karena semua dipandang sudah ”ditentukan” dari sananya.

Pepatah pernah berkata, “Roda kehidupan tak mudah ditebak. Jika kita percaya padanya tanpa sedikit pun keraguan, sama saja dengan bunuh diri.” Tentunya yang dimaksud dengan pepatah ini adalah supaya kita menjadi semakin siap dalam mengarungi kehidupan ini, tidak hanya menyerah pada ”perputaran roda” tersebut. Hidup bukan sekadar mengikuti arus. Kita diajak untuk bersiap, berjaga, dan bertindak.

Martha Tilaar, seorang tokoh pengusaha wanita Indonesia, pernah mengatakan bahwa nasib seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri. Ia bisa saja tetap menjadi seorang guru—profesi yang sangat mulia—tetapi ia memilih untuk melangkah lebih jauh dan memperjuangkan mimpinya. Dan hasilnya kini kita lihat bersama: nama Martha Tilaar dikenal luas lewat produk kecantikan Indonesia. Apa yang disampaikan Martha Tilaar ini sejatinya telah lebih dulu diucapkan oleh Ishak dalam Alkitab: “Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu.” (Kejadian 27:40)

Kisah Alkitab juga dipenuhi oleh tokoh-tokoh yang tidak menyerah pada keadaan. Yakub, demi mendapatkan Rahel, bekerja selama 14 tahun. Yusuf, dijual sebagai budak, namun tidak berhenti berusaha hingga menjadi orang kedua setelah Firaun di Mesir. Hidup ini bukan soal menerima begitu saja, melainkan tentang bagaimana kita menanggapi apa yang Tuhan izinkan terjadi. Nasib memang bisa berubah—bukan dengan menantang Tuhan, melainkan dengan menjalani hidup ini dengan sungguh-sungguh, penuh iman, dan kerja keras. (AU)

Questions:

1. Apakah Anda masih menyalahkan nasib, atau sudah berjuang mengubahnya bersama Tuhan?
2. Dalam hal apa Anda perlu lebih sungguh-sungguh berusaha, bukan sekadar pasrah?

Values:

Hidup bukan hanya soal menerima keadaan, tetapi mengambil peran aktif dalam membentuk masa depan.

Kingdom Quotes:

Menyerah pada nasib adalah pilihan, tetapi berjuang dalam iman adalah panggilan.