APA YANG KITA AJARKAN, ITULAH YANG TERBANG

APA YANG KITA AJARKAN, ITULAH YANG TERBANG 

Bacaan Setahun:
2Taw. 16:1–18:27
1Kor. 15:1–34
Mzm. 102:1–11

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
(Kolose 3:23)

Sekumpulan profesor diundang untuk menikmati suatu perjalanan dengan menggunakan pesawat terbang. Begitu pintu ditutup dan pesawat siap untuk lepas landas, para profesor ini kemudian diberitahu lewat pengeras suara bahwa pesawat yang mereka naiki adalah buatan murid-murid mereka. Sontak para profesor ini berlari dengan tergesa-gesa menuju pintu pesawat, berusaha untuk keluar dan menyelamatkan diri, kecuali ada satu orang profesor yang penuh percaya diri tetap duduk tenang di kursi pesawat itu.

Seseorang kemudian bertanya kenapa dia tidak berusaha keluar dan ikut menyelamatkan diri bersama rekan-rekannya? Profesor itu menjawab dengan tenang, “Mereka adalah murid-murid kita.” Pertanyaan berikutnya: “Apakah engkau yakin bahwa engkau mengajari mereka dengan baik?” Sambil menghela napas sang profesor menjawab pelan, “Saya yakin pesawat ini tidak akan bisa terbang.”

Cerita tentang para profesor dan pesawat buatan muridnya ini lucu, tapi menampar. Semua lari panik saat tahu pesawat itu dibuat “hasil didikan mereka sendiri”. Hanya satu profesor yang tetap duduk, tapi alasannya bukan karena iman. Dia tenang karena dia tahu: bahwa pesawat itu tidak akan bisa terbang.

Renungan ini bukan tentang pesawat. Ini tentang hasil. Kita semua sedang “mengajari” seseorang. Guru mengajar murid, orang tua mengajar anak, senior mengajar junior, kita mengajar orang di sekitar kita lewat perkataan dan kelakuan. Pertanyaannya bukan “Apakah aku sudah mengajar?” Tapi “Apa yang benar-benar mereka tangkap dan hidupi dari ajaranku?”

Banyak dari kita rajin memberi kuliah, nasihat, aturan. Tapi saat “pintu ditutup” dan hasil didikan kita diuji di dunia nyata, kita justru paling takut naik ke dalamnya. Artinya ada yang salah dengan proses pengajaran kita. 2 Timotius 2:2 memberi polanya: Paulus tidak cuma mengajar, dia mencari orang yang “dapat dipercaya dan cakap mengajar orang lain juga”. Tujuannya bukan murid yang pintar teori, tapi murid yang bisa terbang sendiri. Profesor itu gagal bukan karena muridnya bodoh, tapi karena dia sendiri tidak yakin pada apa yang dia ajarkan. Dia mengajar, tapi tidak mentransfer iman, karakter, dan tanggung jawab.

Karena itu, marilah kita bukan hanya menjadi pengajar yang pandai berbicara, tetapi juga teladan yang layak diikuti. Didiklah dengan kasih, integritas, dan ketekunan, sehingga hidup kita melahirkan generasi yang setia dan mampu meneruskan nilai-nilai Kristus. (EC)

Questions:

  1. Apakah hidup kita menjadi teladan bagi orang-orang yang kita ajar?
  2. Nilai apa yang sedang kita wariskan kepada generasi berikutnya melalui perkataan dan tindakan kita?

Values:
Menghidupi apa yang kita ajarkan melalui keteladanan adalah cerminan warga Kerajaan Sorga.

Kingdom Quotes:
Orang melihat Kristus dalam hidup kita melalui keteladanan, dan seorang murid meniru apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang mereka dengar.