APA YANG KITA BANGUN | Pdm. Chandra Wibisono

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.
(Yohanes 12:24)

Tema kita di tahun ini adalah The Year of Re-production, secara umum pengertian Reproduction (Reproduksi) dalam dunia kolektor barang antik atau bidang seni adalah membuat atau membangun ulang sesuatu barang karena yang asli tidak ternilai harganya, tetapi dalam hal ini hidup kita harus mampu melahirkan dan menghasilkan pemimpin-pemimpin yang bernilai kerajaan Allah.  Hidup kita akan semakin bernilai jika kita menghasilkan banyak buah. Sama seperti biji gandum yang jatuh ke dalam tanah dan mati maka akan akan menghasilkan banyak buah, kitapun harus tertanam dan mematikan kedagingan kita.

Jika hari-hari ini kita sedang diijinkan mengalami ditanam dan mati percayalah Tuhan sedang memberikan nilai tambah dalam kehidupan kita. Tuhan mau melalui kehidupan kita dapat memancarkan kemuliaan-Nya. Jadi sekalipun kita dalam keadaan yang tidak mengenakkan, hidup kita tetap memancarkan suasana sorga sehingga banyak jiwa-jiwa yang tertarik datang kepada-Nya melalui hidup kita.

Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,  datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
(Matius 6:9-10)

Kehidupan kekristenan bukanlah kehidupan beragama, tetapi lebih kepada sebuah perjalanan dan hubungan bersama Tuhan. Apa yang kita tampilkan di bumi ini akan menunjukkan tujuan hubungan kita dengan Tuhan. Karenanya dalam kehidupan kita adalah kehidupan membangun sesuatu. Apa yang akan kita bangun di bumi ini?

Membangun Hubungan Dengan Tuhan

Membangun hubungan dengan Tuhan tidak cukup dengan berdoa, memuji dan menyembah Tuhan, tetapi dilakukan melalui belajar memahami dan melakukan Firman Tuhan sehingga mendapatkan pengalaman-pengalaman pribadi bersama Tuhan. Membangun hubungan pribadi dengan Tuhan akan menghasilkan pengenalan yang benar dan keserupaan dengan kepribadian-Nya. Oleh sebab itu kita seiring pertumbuhan kerohanian kita, kita harus terus mau belajar dan semakin kita belajar maka kita akan semakin mengenal Tuhan dan mengerti kasih Tuhan. Tanpa pengalaman pribadi kita tidak bisa mengenal dan merasakan kasih-Nya. Kita belajar dari kehidupan Ayub, justru ketika ia mengalami keadaan yang tidak mengenakkan ia semakin memiliki pengalaman pengenalan secara pribadi kepada Tuhan. Ayub mengalami semuanya itu karena Tuhan sangat  mengasihinya. Kejujuran dan kesalehannya belum membuat dia mengenal Tuhan secara pribadi. Tanpa merasakan kasih Tuhan kita tidak akan bisa mengasihiNya dan mengasihi sesama. Tanpa mengasihi tidak mungkin kita bisa serupa dengan Dia karena Tuhan adalah kasih.

Membangun Keluarga/Rumah Tangga

Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.
(Amsal 24:3-4)

Raja Salomo menuliskan bahwa untuk membangun sebuah keluarga yang kokoh dan harmonis dibutuhkan hikmat, kepandaian dan pengertian, tetapi seringkali kita beranggapan bahwa untuk membangun rumah tangga dibutuhkan cinta dan kasih. Bukan berarti cinta dan kasih tidak diperlukan, tetapi cinta dan kasih saja tidak cukup karena seseorang yang sedang kasmaran hanya digerakkan oleh cinta ‘eros’ yaitu perasaan cinta yang ditimbulkan dari hal-hal yang fisik. Goal kita adalah cinta dan kasih ’agape’ cinta tanpa syarat yang tidak saling menuntut. Permulaan hikmat adalah takut akan Tuhan. Ketika kita hidup takut akan Tuhan maka kita akan lebih mengasihi pasangan kita. Kita juga harus belajar berkomunikasi dengan pasangan kita. Kenali bahasa kasih pasangan kita sehingga kita terus menerus belajar dan melatih diri sendiri untuk semakin mengenali pasangan kita dan membangkitkan kasih. Hubungan suami istri adalah blue print hubungan Kristus dan jemaat yang menjadi teladan bagi bagi anak-anak dan orang-orang di sekitar kita. Dengan membangun keluarga yang kokoh dan harmonis kita sudah menghadirkan suasana sorga di bumi dan di tengah-tengah keluarga kita.

Hubungan pribadi dengan Tuhan dan apa yang kita ajarkan di dalam keluarga akan lebih berdampak bagi anak-anak dan generasi kita dibandingkan dengan apa yang mereka terima di sekolah maupun gereja. Jika hal ini kita hidupi maka kita akan mereproduksi generasi yang takut akan Tuhan dan keluarga yang kokoh. Amin. (RCH).