API YANG ASING

API YANG ASING 

Bacaan Setahun:

1 Kor. 8
1 Raj. 22
Amos 6

“Kemudian anak-anak Harun, Nadab dan Abihu, masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan Tuhan api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan Tuhan” (Imamat 10:1-2)

Ketika kita dipercaya untuk melayani—dalam bidang apa pun—itu berarti Tuhan mempercayakan sebuah tanggung jawab yang harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Pelayanan bukan sekadar aktivitas, melainkan panggilan kudus yang menuntut hidup yang berkenan kepada-Nya, baik secara jasmani maupun rohani. Seperti tertulis dalam 1 Korintus 3:16–17, “Tidakkah kamu tahu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.” Mari bayangkan kehidupan para imam pada masa Perjanjian Lama. Mereka tidak boleh melayani dengan sembarangan. Pelayanan mereka di kemah pertemuan menuntut kekudusan dan ketaatan penuh. Salah satu syarat yang sangat penting: mereka tidak boleh membawa api asing—yaitu melakukan hal yang tidak diperintahkan Tuhan.

Belajar dari kesalahan yang dilakukan oleh anak-anak Harun; Nadab dan Abihu, mereka dihukum mati karena melayani dengan api yang asing. Mereka melakukan sesuatu yang Tuhan tidak perintahkan. Perhatikan dengan seksama bagaimana cara kita melayani Tuhan. Mari refleksi diri dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

Pertama, “Apakah yang saya lakukan sesuatu yang Tuhan perintahkan?” Sesuatu yang kita pandang baik belum tentu itu benar dan dikenan Allah. Apakah mempersembahkan ukupan seperti yang dilakukan Nadab dan Abihu baik? Oh, tentu baik. Lalu di mana salahnya? Kenapa mereka dihukum mati? Karena yang baik belum tentu benar di mata Allah, Nadab dan Abihu melakukan apa yang Tuhan tidak perintahkan. Yang benar dan yang berkenan di mata Allah adalah melakukan perintah-Nya.

Kedua, “Apakah saya melayani mengandalkan skill atau spirit?” Keterampilan penting, tetapi kuasa Roh Kudus jauh lebih utama. Pelayanan sejati terjadi saat Roh Kudus bekerja melalui kita, bukan sekadar keahlian manusiawi. Nadab dan Abihu mungkin menganggap apa yang mereka lakukan ‘sudah biasa’, ‘sudah tugasnya’, ‘rutinitas’, merasa sudah ahli, punya skill sebagai imam, akhirnya, mereka melakukan dengan sembarangan dan dihukum mati.

Ketiga, “Apakah korban persembahan yang saya bawa dikenan Tuhan?” Tuhan menghendaki integritas: kehidupan di atas mimbar harus selaras dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang difirmankan dalam Yesaya 29:13, Tuhan menolak ibadah yang hanya sebatas bibir, tetapi hati menjauh dari-Nya.

Mari, kita melayani dengan hati yang murni, penuh hormat, dan dipimpin oleh Roh Kudus. Jangan membawa api asing ke dalam pelayanan kita—hal yang tidak diperintahkan Tuhan, walau tampak baik. Pelayanan yang sejati bukan soal rutinitas atau keahlian, tetapi tentang ketaatan, kekudusan, dan hubungan yang intim dengan Tuhan. (LA)

Questions:
1. Apakah kita sungguh melayani Tuhan sesuai kehendak-Nya?
2. Apakah hidup kita, baik di atas mimbar maupun di luar pelayanan mencerminkan kekudusan sebagai bait Allah?

Values:
Allah memanggil kita dari gelap kepada terang-Nya, bukan untuk melayani asal-asalan, tapi sebagai imam yang kudus. Jangan bawa api asing!

Kingdom Quotes:
Api yang Anda bawa saat berdiri di altar Allah, haruslah membakar spirit orang-orang yang Anda layani.