ASUMSI VS EMPATI
Bacaan Setahun:
Kol. 1:24-2:19
Yeh. 27-28
Yes. 54
“Janganlah kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7:1)
Seorang wanita sedang menaiki bus menuju kantornya. Ketika duduk, ia melihat seorang pria di sebelahnya membuka bungkusan biskuit. Tak lama kemudian, ia pun membuka biskuit miliknya sendiri. Namun, saat ia mengambil satu keping, pria itu juga ikut mengambil satu dari bungkusan yang sama! Dalam hati, wanita itu kesal dan berpikir, “Berani sekali dia memakan biskuitku tanpa izin!” Setiap kali ia mengambil satu, pria itu juga mengambil satu. Akhirnya, tinggal satu keping biskuit tersisa. Pria itu tersenyum, memecah biskuit itu menjadi dua, lalu memberikan setengah kepada wanita tersebut. Ia semakin marah, tetapi memilih diam. Begitu tiba di kantor, wanita itu membuka tasnya—dan di dalamnya terdapat satu bungkus biskuit yang masih utuh. Ternyata selama ini ia keliru, biskuit yang mereka makan adalah milik si pria!
Sering kali kita bersikap seperti wanita itu. Kita cepat membuat asumsi di dalam pikiran, lalu menuduh orang lain tanpa memeriksa kebenarannya. Akibatnya, kita malu sendiri ketika kebenaran terungkap. Jika hal ini menjadi kebiasaan, kita akan mudah menilai, menghakimi, bahkan mencurigai orang lain. Padahal, sering kali apa yang kita pikirkan sama sekali tidak benar. Inilah bahayanya: asumsi yang keliru dapat merusak hubungan, menimbulkan jarak, bahkan memadamkan kasih yang seharusnya tumbuh di antara kita.
Tuhan Yesus mengingatkan bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. Ketika kita berasumsi, sebenarnya kita sedang mencoba mengambil peran yang bukan milik kita—peran Allah sebagai Hakim yang adil dan Mahatahu. Ini sangat berbahaya, sebab dari asumsi lahir penghakiman, dari penghakiman lahir prasangka, dan dari prasangka lahir kebencian. Semua itu membuat hati kita tertutup terhadap kebenaran dan kasih.
Daripada berasumsi, Firman Tuhan dalam Yakobus 1:19 menasihatkan, “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.” Ayat ini menegaskan pentingnya kesabaran dalam mendengar dan menahan diri sebelum bereaksi.
Kadang, yang kita butuhkan bukanlah penjelasan panjang, melainkan hati yang siap memahami dan penuh empati. Sebelum kita terburu-buru menilai seseorang, berhentilah sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: Apakah yang aku pikirkan ini benar? Dengan demikian, kita belajar untuk melihat dengan kasih, bukan dengan prasangka—dan memberi ruang bagi kebenaran untuk berbicara. (SS)
Questions:
1. Apakah menurut anda berasumsi itu berbahaya?Mengapa?
2. Mengapa sebagai warga Kerajaan Allah kita harus berempati ketimbang berasumsi?
Values:
Hati yang mengasihi adalah hati yang berempati bukan berasumsi.
Kingdom Quotes:
Orang yang bijak menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.