BAHAGIA ITU KEPUTUSAN

BAHAGIA ITU KEPUTUSAN 

Bacaan Setahun:

Kej. 9:18 – 11:9
Mat. 4:23 – 5:20
Mzm. 4:1–8

“Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:17 – 18)

Pernahkah Anda berkata dalam hati, “Andai aku punya seperti yang dia punya, pasti aku akan bahagia”? Atau mungkin anak Anda pernah berkata, “Mama, aku akan sangat bahagia kalau punya gawai baru itu.” Ya, kita semua pernah berpikir demikian—seolah-olah kebahagiaan datang dari apa yang kita miliki. Semakin banyak barang, semakin besar pula senyum di wajah. Benarkah begitu?

Namun mari kita jujur sejenak. Jika benar demikian, seharusnya orang-orang paling kaya di dunia adalah juga yang paling bahagia. Kenyataannya, banyak dari mereka justru hidup dalam kekosongan, kecemasan, dan tekanan batin yang besar. Sebuah survei global tentang indeks kebahagiaan dunia justru menempatkan Kosta Rika—negara dengan kondisi ekonomi yang biasa-biasa saja—sebagai salah satu negara paling bahagia di dunia. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta.

Cobalah perhatikan anak kecil. Mereka dapat tertawa lepas tanpa alasan. Mereka tidak peduli pakaiannya sederhana atau mainannya rusak. Artinya, sejak lahir sebenarnya kita sudah memiliki “fitur” bahagia di dalam diri. Namun semakin dewasa, kita mulai kehilangan kemampuan alami itu, karena kita mengalihkan sumber kebahagiaan dari dalam diri menjadi dari luar diri. Kita mulai sedih karena baju kita tidak sebagus milik orang lain, mobil kita tidak sekeren milik teman, atau pencapaian kita terasa kalah dibandingkan orang di sekitar kita.

John Maxwell, seorang penulis dan pembicara terkenal, pernah bercerita tentang istrinya. Dalam sebuah seminar, seseorang memuji, “Ibu pasti wanita paling bahagia karena suaminya luar biasa.” Dengan tenang, sang istri menjawab, “Ya, saya memang bahagia, dan suami saya luar biasa. Tetapi saya bahagia bukan karena suami saya. Saya bahagia karena saya memutuskan untuk bahagia.” Jawaban itu sederhana, tetapi sangat mendalam.

Bahagia adalah keputusan, bukan keadaan. Nabi Habakuk menulis ayat tersebut bukan dalam keadaan hidup yang mudah. Segalanya gagal. Segalanya hilang. Namun ia tetap berkata, “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan.” Itulah kebahagiaan sejati—kebahagiaan yang tidak bergantung pada hasil panen, saldo rekening, atau siapa yang mencintai kita. Kebahagiaan sejati datang dari keyakinan bahwa Tuhan cukup. Dia sumber hidup kita. Karena itu kita dapat berkata, “Aku memilih untuk tetap bersukacita hari ini.” (DD)

Questions:

1. Apakah selama ini sumber bahagia Anda lebih banyak datang dari luar atau dari dalam?
2. Jika hari ini apa yang anda miliki dan cintai hilang, apakah anda masih bisa berkata, “Aku bersukacita di dalam Tuhan”?

Values:

Siapa yang menaruh harapannya di dalam Sang Raja akan menemukan sukacita yang tidak terguncang oleh apa pun.

Kingdom Quotes:

Bahagia bukan hasil keadaan, tapi hasil keputusan hati yang percaya bahwa Tuhan cukup.