BEDAH RUMAH
Bacaan Setahun:
Luk. 4:31-44
Yeh. 46-47
Yes. 65
“Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalanagan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” (Nehemia 2:17)
Pernah dengar istilah bedah rumah? Bedah rumah adalah program renovasi atau pembangunan rumah tidak layak huni bagi masyarakat yang tidak mampu. Apa hubungannya dengan ayat renungan hari ini? Menjadi seseorang seperti Nehemia bukanlah hal yang mudah. Ia menerima visi dari Tuhan untuk membangun kembali tembok Yerusalem yang runtuh. Nehemia menghadapi dua kenyataan: keadaan Yerusalem yang hancur secara fisik dan penduduknya yang terpuruk secara rohani. Ia bisa saja ditolak atau didukung, tetapi dengan harapan, semangat, serta perlindungan Allah, ia menjalankan misinya memulihkan Yerusalem. “Kami siap untuk membangun!” demikian respons umat setelah mendengar bagaimana tangan Tuhan menolong Nehemia (Nehemia 2:18).
Apakah Nehemia kurang kerjaan hingga mau memikul tanggung jawab besar itu? Tentu tidak. Ia adalah juru anggur raja Artahsasta, posisi terhormat di istana. Namun beban yang Tuhan tanamkan di hatinya membuat ia peduli dan ingin kembali membangun Yerusalem. Secara manusiawi, ia tidak memiliki kemampuan, kekayaan, atau kuasa untuk melakukannya. Tetapi kemurahan Tuhan bekerja melalui raja yang memberinya izin dan surat kuasa untuk membangun kembali kota itu. Apa yang dialami Nehemia seperti seseorang yang menerima hadiah bedah rumah dari Tuhan—sebuah hal yang mustahil tanpa perkenanan ilahi.
Dalam proses bedah rumah, tentu banyak hal yang harus diperhitungkan. Rekonstruksi, lingkungan, dan juga berhadapan dengan orang-orang yang memiliki keterterkaitan dalam hal perijinan dan penyediaan bahan-bahan untuk membangun ulang. Apakah itu hal yang mudah? Tentu tidak! Walaupun Nehemia sudah dibekali surat kuasa, ia tetap menghadapi tantangan dan penolakan. Ia sempat diolok-olok, namun hal itu tidak menyurutkan semangat Nehemia. Bagi Nehemia tidak menjadi persoalan bagaimana sikap orang-orang terhadap dirinya, tetapi bagaimana cara Tuhan menolong dan menyatakan kemurahan-Nya bagi Nehemia untuk membangun kembali reruntuhan Yerusalem. Pada akhirnya, Nehemia dapat melakukannya.
Mungkin saat ini kita mengalami seperti Nehemia. Kita sedang mengalami proses ‘bedah rumah’, secara arti rohani. Kita menerima kemurahan Tuhan, untuk membangun kembali apa yang sudah runtuh, hancur, dan tidak layak. Kita mungkin menghadapi tantangan dari sekeliling kita, ada yang mencibir, ada yang meremehkan, ada yang tidak mendukung. Milikilah tekad seperti Nehemia. Jangan hiraukan sekeliling Anda, bila itu hanya untuk melemahkan dan membuat Anda berhenti membangun. Tetaplah fokus pada visi yang Tuhan sudah taruh di hidup Anda. Kerjakan proses ‘bedah rumah’ Anda sampai selesai untuk kemuliaan nama Tuhan. (LA)
Questions:
1. Apa yang dilakukan Nehemia ketika menghadapi kenyataan kota Yerusalem mengalami kehancuran secara fisik dan spiritual?
2. Apa makna ‘Bedah Rumah’ secara spiritual bagi Anda?
Values:
Kerendahan hati membuat Nehemia berkenan di hadapan raja dan Tuhan, serta teguh membangun Yerusalem hingga selesai.
Kingdom Quotes:
Bangun Rumah maupun Bedah Rumah, sama-sama memiliki tujuan agar rumah tersebut layak dihuni. Apa yang Tuhan bangun melalui hidup Anda akan berdiri kokoh.