BERDASAR ASUMSI

BERDASAR ASUMSI 

Bacaan Setahun: 
Bil. 6 
Mzm. 66 
1 Kor. 1 

“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8)

Banyak masalah muncul dalam suatu hubungan, baik dalam keluarga maupun dalam kelompok sosial disebabkan karena adanya asumsi. Asumsi adalah dugaan yang diterima sebagai dasar; landasan berpikir karena dianggap benar. Asumsi dikembangkan dari sikap curiga, ketidakpercayaan, penilaian yang keliru terhadap sesuatu sehingga muncul pikiran-pikiran negatif.

Di dalam Alkitab diceritakan bahwa Murid-murid Yesus mengira Yesus adalah hantu, ketika Yesus berjalan di atas air. Markus 6:49-50 “Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia, dan merekapun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka : Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Mengira adalah suatu asumi, murid-murid menyangka Ia hantu, sehingga murid-murid menjadi takut. Karena pikiran negatifnya, murid-murid dihampiri rasa takut.

Dalam Kitab Perjanjian Lama, diceritakan tentang Saul yang berasumsi bahwa jabatan raja akan jatuh kepada Daud. 1 Samuel 18:8 “Lalu bangkitlah amarah Saul dengan sangat; dan perkataan itu menyebalkan hatinya, sebab pikirnya : Kepada Daud diperhitungkan mereka berlaksa-laksa, tetapi kepadaku diperhitungkannya beribu-ribu; akhir-akhirnya jabatan raja itupun jatuh kepadanya.” Asumsi terjadi karena pikiran yang negatif dan hati yang sensitif, sehingga akhirnya membuahkan respon negatif atau mengakibatkan hal yang negatif terjadi.

Ayub 3:25-26 menuliskan “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpaku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketentraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” Asumsi akibat pikiran negatif membuat kita tidak tenang, dan justru berbuahkan salah langkah.

Oleh sebab itu, Jadilah tenang (1 Petrus 4:7), tetap miliki pikiran yang selaras dengan Kristus (Filipi 2:5), jadilah lambat berkata, namun banyak mendengar (Yakobus 1:19), berusaha terus berpikir positif (Filipi 4:8), dan tentu saja, jangan mengambil keputusan bedasarkan asumsi, baik terhadap Tuhan, diri sendiri, orang lain, dan situasi. Kita tahu bahwa banyak hubungan yang rusak karena dimulai dari suatu asumsi. Ini adalah pola pikir yang dikembangkan oleh si jahat yang membuat kita hilang kepercayaan terhadap sesuatu, atau seseorang. Tuhan memberkati. (JB)

Questions:
1. Asumsi apa yang pernah Anda miliki namun ternyata asumsi tersebut salah?
2. Menurut Anda, Apa yang bisa membuat kita tidak suka untuk berasumsi tentang orang lain?

Values:
Asumsi tanpa dasar kebenaran adalah suatu yang jahat, sebab akan merusak diri kita sendiri dan juga orang lain.

Kingdom Quote:
Asumsi itu seperti rayap dalam sebuah hubungan, sebab berbicara dengan bahasa kecurigaan, bukan kepercayaan.