BERIMAN, TAAT DAN BERHARAP

BERIMAN, TAAT DAN BERHARAP 

Bacaan Setahun:

Yoh. 15:1-16:4, 2 Taw. 23, Mzm. 80

“Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” (Ibrani 11:8 – TB)

Bayangkan jika kita diperintahkan untuk pergi ke suatu tempat yang belum kita ketahui—tanpa tahu lokasi, tujuan pasti, atau apa yang harus dilakukan di sana. Ditambah lagi, kita harus meninggalkan orang-orang terdekat dan zona nyaman yang selama ini kita nikmati. Secara manusia, tentu hal itu terasa berat. Kita cenderung ingin tetap tinggal di tempat yang sudah kita kenal dan rasa aman.

Inilah yang dialami oleh Abraham. Tuhan memerintahkannya pergi ke negeri yang tidak Ia tunjukkan secara rinci. Yang Abraham tahu hanyalah janji Tuhan bahwa tanah itu akan menjadi milik pusakanya. Namun, seperti yang tertulis dalam Ibrani 11:8, Abraham mau dan taat pada perintah Tuhan dan memegang janji Tuhan itu. Dia percaya kepada janji Tuhan.

Abraham adalah manusia biasa seperti kita. Ia juga pernah ragu dan membuat keputusan yang keliru. Dalam Kejadian 17:17, Abraham bahkan tertawa ketika mendengar bahwa ia akan memiliki anak di usia seratus tahun. Namun, Tuhan tidak meninggalkannya. Allah terus menopang dan menguatkan imannya, sampai ia mampu menghadapi ujian paling berat: mengorbankan Ishak, anak yang sangat ia kasihi. Abraham lulus dalam ujian iman tersebut. Dari kisah Abraham, kita dapat belajar tiga hal tentang iman.

Pertama, iman berarti percaya sebelum melihat. Biasanya orang baru percaya setelah melihat. Iman tidak perlu pembuktian. Iman memerlukan hati yang percaya dengan sungguh. “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1) Kedua, iman berarti bertindak sebelum tahu dengan pasti. Kita sering menunda karena takut menghadapi ketidakpastian. Namun, iman menuntut kita untuk melangkah mengikuti kehendak Tuhan, bukan berdasarkan keinginan pribadi. Ketiga, iman berarti berharap sebelum mengalami. Abraham tetap berharap kepada Tuhan, meskipun belum melihat penggenapan janji itu secara langsung.

Mari kita berharap penuh kepada Tuhan. Percaya bahwa kita pasti akan mengalami janji-janji Tuhan yang terbaik untuk hidup kita. Belajarlah percaya kepada Tuhan, mulai melangkah dengan iman dan selalu berharap kepada-Nya. Jika Tuhan sudah taruh visi dalam hidup kita, melangkahlah dengan iman dan terus menaruh pengharapan kita kepada Tuhan. Visi Tuhan, panggilan Tuhan selalu disertai dengan pemeliharaan dan penyediaan Tuhan. Jangan melangkah karena ambisi pribadi atau berspekulasi. Melangkahlah dengan iman yang tertuju kepada Allah. (RJ)

Questions:

1. Apakah yang menghambat Anda untuk melangkah dengan iman kepada Allah?
2. Apakah Anda melangkah karena visi Tuhan ataukah karena ambisi dan spekulasi? Renungkan.

Values:

Janji Tuhan akan digenapi kalau kita melangkah dalam iman dengan penuh pengharapan kepada-Nya.

Kingdom Quotes:

Berjalanlah dengan iman dalam visi Tuhan dan bukan karena ambisi atau spekulasi.