BERSAMA (KELUARGA) HADAPI KEGAGALAN

BERSAMA (KELUARGA) HADAPI KEGAGALAN 

Bacaan Setahun:

Ayb. 4:1 – 7:21
Mat. 19:1–15
Mzm. 17:1–5

“Sebab tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali, tetapi orang fasik akan roboh dalam bencana.” (Ams 24:16)

Dalam kehidupan ini, setiap pribadi dan keluarga sering kali mengarahkan tujuan hidupnya untuk meraih keberhasilan. Di dalam keluarga, orang tua berjuang keras untuk mencapai keberhasilan, sekaligus mempersiapkan pendidikan anak-anak dengan tujuan yang sama, yaitu meraih keberhasilan. Tentu hal ini bukanlah sesuatu yang keliru. Namun tanpa disadari, kita kerap mengabaikan realitas hidup yang bernama kegagalan. Kita dimotivasi untuk berhasil menghadapi berbagai tantangan, tetapi kegagalan merupakan hasil negatif dari perjuangan menghadapi tantangan tersebut. Firman Tuhan yang kita baca menegaskan bahwa kegagalan adalah realitas yang dapat dialami setiap orang, apa pun statusnya.
Dalam aspek kehidupan berkeluarga, kegagalan dapat menimpa setiap pribadi dalam keluarga—baik ayah, ibu, anak, maupun suami-istri—dan muncul dalam berbagai aspek kehidupan. Pada aspek kesehatan, misalnya, ada anggota keluarga yang secara nyata mengalami sakit serius, cacat, atau memiliki kebutuhan khusus. Pada aspek ekonomi, realitas kegagalan dapat muncul melalui kehilangan pekerjaan, bisnis yang bangkrut, atau bahkan penipuan oleh rekan usaha. Apakah hal tersebut dapat terjadi pada kita? Mazmur 34:19 berkata, “Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu.” Tanpa respons yang tepat, kegagalan dapat berakibat pada depresi yang kemudian berkembang menjadi kecenderungan merusak diri (self-harming) bahkan percobaan bunuh diri.
Lalu bagaimana kita harus merespons kegagalan dengan benar? Hal pertama yang paling penting adalah menerima realitas kegagalan tersebut. Karena kegagalan sering kali membawa konsekuensi, sanksi, rasa malu, atau rasa terhina, maka banyak orang berusaha menutupinya dengan mengembangkan defence mechanism yang berlebihan. Misalnya menekan masalah (represi), menuduh orang lain (proyeksi), melampiaskan kepada pihak lain (displacement), atau ketika seseorang yang awalnya menjadi korban justru menyebabkan orang lain mengalami kegagalan (pelaku).
Peran berikutnya dari keluarga adalah memandang kegagalan sebagai kesempatan untuk datang kepada Tuhan (God’s Calling) dalam pengakuan dan pertobatan. Hal ketiga, keluarga perlu mencari dukungan komunitas atau tenaga profesional, seperti konsultan, psikolog, psikiater, dokter, atau konselor pernikahan. Peran terakhir keluarga adalah mendukung setiap anggota keluarga untuk berani menjalani konsekuensi dari kegagalan tersebut di dalam anugerah Tuhan. Sebab beberapa kegagalan memang membawa konsekuensi yang harus dihadapi. Jangan malu untuk menjalani konsekuensi itu dalam anugerah-Nya. Anda siap? (HA)

Questions:

1. Bagaimana respons anda selama ini ketika kegagalan datang?
2. Sudahkah anda melihat kegagalan sebagai kesempatan untuk bertumbuh dan semakin dekat dengan Tuhan?

Values:

Kegagalan bukan akhir, tetapi kesempatan untuk kembali kepada Tuhan, bertobat, dan bertumbuh dalam anugerah-Nya.

Kingdom Quotes:

Kegagalan terbesar manusia adalah dosa. Melalui salib, Kristus menanggung malu, hinaan, dan kematian agar kita bangkit dan berani menghadapi kegagalan.