BLESSED ASSURANCE (KU BERBAHAGIA)

BLESSED ASSURANCE (KU BERBAHAGIA) 

Bacaan Setahun:

2 Tim. 1, Yer. 5-6, Mzm. 121

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!“ (Mazmur 33:12)

Lagu Blessed Assurance ditulis oleh penulis kidung tuna netra bernama Fanny J. Crosby. Ia lahir di Southeast, New York, pada 24 Maret 1820. Fanny mengalami infeksi mata yang sebenarnya tidak terlalu parah. Namun, karena keteledoran seorang dokter, ia akhirnya menjadi buta permanen. Tidak lama setelah itu, ayah Fanny jatuh sakit dan meninggal dunia. Sementara itu, ibunya yang masih berusia 21 tahun menjadi janda dan harus bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Karena kesibukan ibunya, Fanny kemudian diasuh oleh neneknya. Dari neneknya inilah ia mendapatkan banyak pengajaran tentang iman kepada Kristus.

Kontras dengan latar belakang hidupnya yang memilukan, Fanny Crosby pernah berkata, “Jika aku memiliki sebuah pilihan, aku akan tetap memilih untuk tetap buta, sebab ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juruselamatku.” Sebuah pernyataan iman yang luar biasa dari seorang buta, namun tetap bersyukur atas jalan hidup yang harus dijalaninya. Sepanjang hidupnya, Fanny Crosby menulis sekitar 8.000 himne tentang Tuhan, yang menjadi wujud perjalanan imannya bersama Kristus.

Salah satu himne yang ditulis Fanny Crosby dan populer di kalangan umat Kristen adalah Blessed Assurance. Lagu ini diterjemahkan oleh Yayasan Musik Gereja ke dalam bahasa Indonesia dan dimasukkan ke dalam Kidung Jemaat dengan judul Ku Berbahagia. Himne ini berisi pujian serta pengagungan yang indah kepada Tuhan Yesus Kristus. Selain itu, lagu ini juga mengingatkan kita bahwa kasih-Nya senantiasa menyertai, sehingga kita memiliki pengharapan yang kekal di dalam Tuhan. Sebab, kita adalah milik-Nya, dan Dialah harta abadi yang paling berharga dalam hidup kita.

Namun, sukacita, keriangan, hasrat, serta antusiasme dalam memuji Tuhan dengan pemahaman yang benar sering kali perlahan tergeser dari kehidupan ibadah kita. Tidak jarang perayaan dan sukacita dalam ibadah dipandang tabu atau, sebaliknya, berubah menjadi sarana hiburan semata. Mazmur 33 mengingatkan kita bahwa puji-pujian kepada Allah adalah ajakan untuk memuliakan-Nya dengan semangat yang benar, tulus, dan penuh kesungguhan.

Sejalan dengan itu, firman Tuhan berkata, “Jangan ada padamu allah lain di hadapanKu” (Ulangan 5:7). Ini merupakan panggilan untuk menjaga hati tetap tertuju kepada Allah, satusatunya sumber keselamatan dan sukacita sejati. Dengan hidup demikian, niscaya kita sebagai ciptaan akan terus terhubung dengan Sang Pencipta. Rasa syukur akan mendorong kita untuk senantiasa mengangkat puji-pujian bagi kemuliaan Tuhan, Sang Pencipta. “Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya. Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.” (AU)

Questions:

1. Apakah sukacita dan semangat memuji Tuhan masih nyata dalam ibadah dan kehidupan seharihari kita?
2. Hal apa yang selama ini menghalangi Anda untuk tetap setia memuliakan Tuhan dengan hati bersyukur?

Values:

Pujian kepada Tuhan harus lahir dari hati yang tulus, bukan sekadar formalitas atau hiburan.

Kingdom Quotes:

Hati yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk memuji Tuhan, bahkan di tengah keterbatasan.