BUNGLON

BUNGLON 

Bacaan Setahun:

Kel. 6:13 – 8:32, Mat. 26:47–68, Mzm. 19:7–14

“Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.” (1 Korintus 10:32–33)

Pernahkah kita mendengar istilah “manusia bunglon”? Ungkapan ini umumnya bukan pujian, melainkan sindiran bagi orang yang dianggap tidak memiliki pendirian, mudah berubah sikap, dan menyesuaikan diri semata-mata demi kepentingan pribadi. Hari ini mengatakan A, esok bisa mengatakan Z, tergantung dengan siapa ia berbicara dan situasi apa yang sedang dihadapinya.

Namun, tidak semua gambaran tentang bunglon harus dimaknai secara negatif. Jika kita melihatnya dari sudut pandang penciptaan, kemampuan bunglon mengubah warna kulitnya justru merupakan bentuk kecerdikan untuk bertahan hidup. Tuhan menciptakannya dengan kemampuan beradaptasi agar tetap hidup di tengah ancaman lingkungan. Dari sini, kita dapat belajar bahwa kemampuan menyesuaikan diri tidak selalu identik dengan ketidaksetiaan.

Dalam konteks rohani, Rasul Paulus justru memberikan teladan yang menarik. Ia berkata, “Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka” (1 Korintus 9:21–22). Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan rohani Paulus, bukan sikap plin-plan atau kompromi terhadap kebenaran.

Luar biasa! Paulus bukan plin-plan, tapi pintar membaca situasi tanpa kehilangan prinsip. Dia tahu kapan harus berbicara dalam “bahasa orang Yunani”, kapan harus menyesuaikan diri dengan orang Yahudi, tapi dalam semua itu—dia tetap hidup “di bawah hukum Kristus.”

Kalau kita hidup di zaman sekarang, mungkin Paulus akan jadi orang yang bisa nyambung ngobrol sama semua kalangan. Ngopi santai bareng anak muda tapi tetap nyentuh hal rohani. Diskusi teologi dengan kaum akademik tapi tetap rendah hati. Kunjungi pasar, ngobrol dengan pedagang, dan tetap membawa aroma Kristus.

Itulah kedewasaan rohani: Bukan keras kepala mempertahankan “caraku paling benar”, tapi berani masuk ke dunia orang lain tanpa kehilangan arah surgawi. Bukan menjadi bunglon yang menipu, tapi menjadi duta Kristus yang menyesuaikan supaya bisa menjangkau. Kadang kita terlalu sibuk membenarkan diri, sampai lupa bahwa misi kita bukan memenangkan debat, tapi memenangkan jiwa. (DD)

Questions:

1. Apakah Anda lebih sering berusaha dimengerti, atau berusaha memahami orang lain?
2. Apakah Anda mampu menyesuaikan diri tanpa kehilangan identitas Kristus di dalam diri Anda ?

Values:

Kedewasaan rohani ditandai bukan oleh seberapa keras kita mempertahankan posisi, tapi seberapa bijak kita menjangkau orang lain dengan kasih Kristus

Kingdom Quotes:

Menjadi “bunglon” dalam Kristus berarti beradaptasi demi misi, bukan hanya berubah demi diterima.