BURUNG DAN BUNGA PUN TIDAK KHAWATIR

BURUNG DAN BUNGA PUN TIDAK KHAWATIR

Bacaan Setahun:
Amos 1:1 – 2:16
Roma 2:17 – 3:8
Amsal 17:5–14

“Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (24) Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Markus 9:23-24)

Percaya itu mudah ketika semua terlihat jelas. Ketika bukti ada di depan mata, ketika keadaan berjalan sesuai harapan, ketika doa dijawab cepat. Tetapi iman sejati justru diuji ketika fakta berbicara sebaliknya-saat harapan tampak memudar, saat usaha terasa sia-sia, dan ketika jawaban Tuhan seolah tertunda.

Seorang ayah dalam Markus 9 datang kepada Yesus dengan hati yang hancur. Anaknya kerasukan, para murid tidak sanggup menolong, dan semua jalan seolah buntu. Namun di tengah keputusasaan itu, ia mengucapkan kalimat yang jujur dan menggugah: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ini bukan pengakuan iman yang sempurna-ini iman yang terluka, tetapi tetap berpaut.

Sering kali kita berpikir bahwa iman harus tanpa keraguan. Padahal kenyataannya, iman justru sering berjalan berdampingan dengan pergumulan. Raja Daud pun mengalaminya. la mengenal Tuhan, tetapi tetap bisa merasa takut, tertekan, bahkan gelisah. Namun ia tidak berhenti di sana. la memilih untuk tetap berharap. “Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.” (Mazmur 56:4).

Di sinilah letak kekuatan iman: bukan pada ketiadaan rasa takut, tetapi pada keputusan untuk tetap percaya di tengah ketakutan. Iman bukan menunggu keadaan berubah baru percaya, tetapi percaya lebih dulu-bahkan ketika keadaan belum berubah.

Mungkin hari ini kita sedang ada di titik seperti ayah itu. Sudah berdoa, sudah berharap, tetapi belum melihat jawaban. Hati mulai goyah. Pikiran mulai dipenuhi keraguan. Namun justru di titik itu, Tuhan tidak menuntut iman yang sempurna. la hanya mencari hati yang mau tetap datang, tetap berharap, dan tetap berkata: “Tuhan, aku percaya-meskipun aku masih bergumul.” Iman sejati bukan tentang seberapa kuat kita merasa, tetapi kepada siapa kita bersandar.

Tetaplah datang kepada Tuhan, sekalipun langkah terasa lemah. Tuhan tidak menolak hati yang jujur dan berharap kepada-Nya. Di tengah pergumulan, Tuhan sedang membentuk iman yang dewasa dan mengajarkan kita untuk lebih mengenal kesetiaan-Nya. Pada waktunya, kita akan melihat bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang tetap percaya kepada-Nya. (DD)

Questions:
1. Apakah Anda masih mau percaya kepada Tuhan ketika keadaan tidak berubah sesuai harapan?
2. Di bagian mana dalam hidup Anda hari ini yang membutuhkan doa jujur: “Tuhan, tolonglah ketidakpercayaanku”?

Values:
Orang percaya bukan hidup tanpa pergumulan, tetapi tetap berpegang kepada Tuhan di tengah pergumulan. Tetap percaya, karena di situlah mukjizat mulai terjadi.

Kingdom Quotes:
Iman bukan berarti tidak pernah ragu, tetapi tidak pernah berhenti berharap.