CINTA SAJA TIDAK CUKUP

CINTA SAJA TIDAK CUKUP

Bacaan Setahun:
Amos 5:1–27
Roma 4:1–15
Mazmur 86:1–10

“Dengan hikmat rumah didirikan, dengan kepandaian itu ditegakkan, dan dengan pengertian kamar-kamar diisi dengan bermacam-macam harta benda yang berharga dan menarik.” (Amsal 24:3-4)

Banyak orang percaya bahwa cinta adalah satu-satunya syarat untuk membangun pernikahan yang bahagia. Selama ada perasaan cinta, semuanya dianggap akan berjalan baik. Namun kenyataannya, banyak pasangan yang saling mencintai justru mengalami konflik, kepahitan, bahkan berujung pada perpisahan. Untuk mempertahankan sebuah hubungan cinta saja tidak cukup. Pernikahan membutuhkan pengertian, komitmen, karakter, dan prinsip-prinsip Kerajaan Allah.

Cinta adalah awal yang indah, tetapi cinta tanpa fondasi yang benar akan mudah runtuh ketika tekanan hidup datang. Perasaan dapat berubah, Emosi bisa naik turun. Ketertarikan fisik dapat memudar. Namun pernikahan yang dibangun di atas tujuan Allah akan tetap kuat sekalipun badal datang. Itulah sebabnya Allah tidak hanya menciptakan cinta, tetapi juga menetapkan prinsip-prinsip untuk menjaga hubungan tetap sehat dan bertumbuh.

Sering kali orang berkata, “Saya sudah tidak merasa cinta lagi.” Padahal masalah utamanya bukan hilangnya cinta, melainkan hilangnya komitmen untuk terus memilih mengasihi. Agape-kasih Allah-mengajarkan kita untuk tetap mengasihi bahkan ketika pasangan tidak sempurna, karena kasih sejati bukan hanya perasaan, tetapi keputusan. Tuhan sendiri memberi teladan melalui kasih-Nya kepada kita. Bahkan Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa. (Roma 5:8).

Dalam hubungan sehari-hari, cinta perlu diwujudkan melalui tindakan nyata: komunikasi yang sehat, penghargaan, perhatian terhadap hal-hal kecil, kesediaan mendengar, dan pengorbanan. Banyak rumah tangga retak bukan karena kurang cinta, tetapi karena kurang pengertian dan kurang kesediaan untuk belajar bertumbuh bersama. Pernikahan yang berhasil tidak dibangun secara otomatis; pernikahan yang berhasil dibangun dengan sengaja.

Pernikahan seperti permata berharga yang dibentuk melalui tekanan dan waktu. Dua pribadi yang berbeda dipersatukan bukan untuk saling menguasai, tetapi untuk bertumbuh menjadi satu. Dalam proses itu, akan ada gesekan karakter, perbedaan kebiasaan, dan benturan cara berpikir. Tanpa kesabaran, pengampunan, dan kerendahan hati, cinta emosional saja tidak akan mampu bertahan. Kasih sejati bukan tentang mencari kebahagiaan diri sendiri, melainkan tentang belajar menjadi serupa dengan Kristus. Ketika kasih dipadukan dengan hikmat, kesetiaan, komitmen, dan prinsip Firman Tuhan, maka hubungan akan bertumbuh kuat dan memuliakan Allah. (RSN)

Questions:
1. Apa saja yang dibutuhkan dalam pernikahan selain cinta?
2. Tindakan apa yang harus dilakukan dalam merawat sebuah pernikahan?

Values:
Cinta dan kasih yang dipadukan dengan hikmat, kesetiaan, komitmen, dan prinsip Firman Tuhan, maka hubungan pernikahan akan bertumbuh kuat dan memuliakan Allah.

Kingdom Quotes:
Pernikahan yang berhasil tidak dibangun secara otomatis; pernikahan yang berhasil dibangun dengan sengaja.