Compassion for the Lost | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Matius 9:36 TB)

Orang lumpuh, orang buta, orang sakit, orang dengan masalah keluarga, masalah keuangan, memerlukan belas kasihan. Belas kasihan adalah satu-satunya hal yang bisa didengar oleh orang tuli dan yang bisa dilihat oleh orang buta. Belas kasihan bisa kita tunjukkan kepada orang yang membutuhkan, tetapi hanya Tuhanlah yang bisa memberikan anugerah-Nya.

Apapun yang kita lakukan dalam pelayanan, kita tetap memerlukan anugerah Tuhan. Zakheus memiliki ‘kecacatan’, yaitu tubuhnya pendek secara fisik. Kita mungkin memiliki tinggi tubuh yang normal, namun ‘pendek’ secara rohani, ‘pendek’ dalam kualitas hubungan, atau ‘pendek’ dalam kualitas kesehatan. Ada kecacatan-kecacatan dalam hidup kita.

Yesus menjangkau Zakheus, seorang yang mempunyai ‘kecacatan’ dan ditolak oleh masyarakat. Yesus digerakkan oleh belas kasihan, sehingga Dia mengasihi Zakheus. Hal inipun dapat terjadi dalam hidup kita.

BAGAIMANA KITA BISA MENGALAMI BELAS KASIHAN TUHAN?

Untuk mengalami belas kasihan Tuhan, kita akan mempelajari dari kehidupan Zakheus di kitab Lukas 19:1-10.

MEMILIKI KEMAUAN DAN INISIATIF

”Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.  Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.” (Lukas 19:3-4)

Kemauan dan inisiatif dinyatakan saat kita percaya kepada belas kasihan Tuhan dan menghidupinya. Sekalipun sudah percaya kepada Yesus, namun jika kepercayaan kita salah, maka tindakan-tindakan dalam hidup kitapun bisa menjadi salah. Sebagai wujud belas kasihan, maka untuk meningkatkan kualitas pelayanan, kita bisa secara terbuka menyampaikan koreksi atau masukan, dan mencari solusinya bersama-sama.

MERESPONI DENGAN SUKACITA

Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita. (Lukas 19:6)

Kita seharusnya memiliki gaya hidup yang selalu bersyukur, dan bukannya mengeluh. Di tengah berbagai masalah kehidupan, kita seringkali sulit untuk mengucap syukur. Namun sebagaimana halnya Zakheus, kita harus tahu bahwa jalan untuk memiliki sukacita sejati adalah dengan cara menyambut Tuhan, dan mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita.

KONSISTEN PADA FOKUS YANG DITUJU

Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa. (Lukas 19:7)

Jadilah konsisten pada fokus yang kita tuju. Jangan lagi fokus pada kekurangan orang lain, pada pengalaman orang lain, atau pada adat istiadat. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Ada orangtua yang baik hati dan mudah bersosialisasi, namun mempunyai anak yang tidak mau bergaul. Janganlah kita fokus kepada kondisi orangnya. Fokuslah kepada pemikiran bahwa belas kasihan Tuhan dapat dinyatakan kepada orang tersebut.

Jika kita fokus kepada belas kasihan Tuhan, maka orang akan mau berlatih dengan disiplin tanpa harus diawasi. Orang mau melakukan firman Tuhan tanpa perlu disuruh. Fokus kita seharusnya pada tujuan Tuhan yaitu mewujudkan gambar Tuhan melalui hidup kita.

ADA TINDAKAN UNTUK BERUBAH

Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat. (Lukas 19:9)

Mengapa kita perlu memiliki tindakan untuk berubah? Karena kita sadar bahwa kita sudah menerima anugerah dan belas kasihan dari Tuhan Yesus. Tindakan kita adalah khotbah tanpa suara, namun gemanya sangat kuat. Kita tidak harus menjadi orang yang terbaik, tetapi kita harus menjadi orang yang peduli. Tindakan Tuhan Yesus yang peduli dan menunjukkan belas kasihan kepada Zakheus, mengakibatkan Zakheus mengambil keputusan untuk berubah dan hal ini membawa keselamatan bagi seluruh isi rumahnya (Lukas 19:9-10). Amin. (VW).