DO EVERYTHING WITH LOVE
Minggu
27 September 2026
Bacaan Setahun:
Yes. 65:17–66:24
Ef. 5:8–33
Mzm. 113:1–9
“Di atas semuanya itu: Kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.”
(Kolose 3:14, 23 – TB2)
Tema minggu keempat bulan September 2026 adalah Do Everything with Love berarti menjadikan kasih sebagai alasan, cara, dan tujuan dalam setiap tindakan. Kasih bukan sekadar perasaan yang datang dan pergi. Dalam Kerajaan Allah, kasih adalah keputusan yang mengarahkan cara berpikir, berbicara, melayani, bekerja, dan memperlakukan sesama. Pekerjaan yang benar tanpa kasih kehilangan nilainya di hadapan Tuhan, tetapi tindakan sederhana yang lahir dari kasih memiliki nilai kekal. Mari kita belajar tiga hal tentang Do Everything with Love.
Yang pertama, SIKAP HATI YANG BENAR – Kolose 3:23. Paulus memakai frasa Yunani ek psychēs, yang berarti dari jiwa, dengan segenap hati. Secara leksikon, kata ini menunjuk pada keterlibatan seluruh batin. Secara sintaksis, frasa ini menerangkan cara melakukan setiap pekerjaan, bukan hanya hasil akhirnya. Secara habitus, orang percaya dipanggil membangun kebiasaan bekerja dengan integritas karena sadar bahwa Tuhan adalah Pribadi yang dilayani. Jemaat Kolose hidup dalam masyarakat yang mengenal sistem tuan dan hamba. Paulus mengubah cara pandang mereka: pekerjaan bukan lagi sekadar kewajiban kepada manusia, tetapi ibadah kepada Kristus. Hari ini, kualitas kerja kita menunjukkan kualitas hati kita.
Yang kedua, MOTIVASI HATI YANG MURNI – 1 Petrus 4:10. Kata charisma berarti karunia yang dianugerahkan Allah. Setiap karunia dipercayakan untuk melayani, bukan untuk membangun reputasi pribadi. Dalam hubungan leksikon-sintaksis-habitus, Petrus menegaskan bahwa setiap orang percaya adalah pengelola anugerah Tuhan. Karena itu, motivasi pelayanan tidak boleh digerakkan oleh pujian, posisi, atau keuntungan, melainkan oleh rasa syukur kepada Sang Pemberi Karunia. Kasih yang murni selalu bertanya, “Bagaimana Tuhan dimuliakan?” bukan, “Bagaimana aku dihargai?”
Yang ketiga, MENGASIHI DENGAN TULUS – Roma 12:17–18. Paulus memakai kata agapē, yaitu kasih yang memilih memberi tanpa menuntut balasan. Dalam konteks Roma yang penuh konflik sosial, orang percaya dipanggil hidup damai dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kasih seperti ini bukan kelemahan, melainkan kekuatan yang lahir dari hati yang telah ditaklukkan Kristus. Mengasihi dengan tulus berarti tetap memilih kebenaran tanpa kehilangan kelembutan, tetap mengampuni tanpa mengabaikan keadilan, dan tetap berbuat baik meskipun tidak selalu dihargai.
Kasih adalah pakaian rohani yang menyatukan seluruh karakter Kristus dalam hidup orang percaya. Ketika sikap hati benar, motivasi tetap murni, dan kasih diwujudkan dengan tulus, setiap pekerjaan berubah menjadi penyembahan yang berkenan kepada Tuhan. Dunia mungkin menilai hasil, tetapi Tuhan selalu melihat hati yang mengerjakannya. Stay blessed. (DW)
Questions:
- Mengapa kita harus memiliki sikap hati yang benar dan motivasi hati yang murni dalam melakukan segala sesuatu?
- Apa yang mendorong kita mengasihi dengan tulus dalam membangun hubungan dengan orang lain?
Values:
Seorang Warga Kerajaan Allah adalah pribadi yang mau mengasihi dengan tulus dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Kasih bukan hanya terlihat dari apa yang kita lakukan, tetapi dari hati yang menggerakkan setiap tindakan. Ketika kasih menjadi fondasi hidup, pekerjaan biasa pun berubah menjadi persembahan yang bernilai kekal.