EMPATI
Bacaan Setahun:
Yak. 1, Yer. 21-22, Mzm. 129
“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.” (Roma 12:15)
Kita semua tentu telah mendengar berita bahwa beberapa waktu lalu terjadi peristiwa penjarahan rumah pejabat di Jakarta. Kejadian serupa juga terjadi di Kathmandu, Nepal. Rakyat yang marah mendatangi rumah beberapa anggota DPR yang dinilai kurang “peka” terhadap penderitaan masyarakat secara umum. Sebagai seorang pejabat publik, seseorang perlu memiliki empati.
Menurut Carl Rogers, empati adalah kemampuan seseorang memahami orang lain dengan cara seolah-olah masuk ke dalam diri orang tersebut sehingga dapat merasakan dan mengalami perasaan serta pengalaman orang lain tanpa kehilangan identitas diri. Empati lebih dari sekadar merasa kasihan; empati adalah kemampuan seperti Kristus untuk turut masuk ke dalam sukacita maupun penderitaan orang lain.
Yesus, ketika hidup di dunia, sering digerakkan oleh pergumulan orang-orang di sekeliling-Nya. Ia menangis bersama Maria dan Marta di kubur Lazarus (Yohanes 11:35). Ia juga berbelas kasihan kepada orang banyak karena mereka lelah dan terlantar, seperti domba yang tidak bergembala (Matius 9:36).
Menjadi pribadi yang berempati berarti melihat orang lain dengan mata Yesus. Itu berarti berhenti sejenak dari fokus terhadap diri sendiri, lalu mendengarkan dengan sungguhsungguh serta membuka hati terhadap kenyataan yang dialami orang lain. Ketika kita melatih empati, kita sedang mencerminkan hati Allah. Empati meruntuhkan tembok, membangun jembatan, dan menjadikan kasih nyata dalam tindakan, bukan hanya dalam kata-kata.
Di tengah dunia yang sering dipenuhi dengan perpecahan dan keegoisan, empati menjadi kesaksian yang kuat. Setiap warga Kerajaan Allah seharusnya memiliki hati sebagaimana Allah telah memperlakukan kita. Allah kita adalah El-Roi (Kejadian 16:13), Allah yang melihat penderitaan manusia. Ia mendengar setiap seruan manusia yang meminta pertolongan (Mazmur 34:16). Yesaya 43:4a berkata, “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.”
Empati bersumber dari hati yang mengasihi. Manusia tidak bisa menghasilkan kasih sejati dari dirinya sendiri, sebab kasih sejati tidak lahir dari emosi, tetapi dari relasi dengan Sang Sumber Kasih itu sendiri. Kasih adalah seorang Pribadi. Kasih adalah Allah sendiri. (SS)
Questions:
1. Mengapa kita perlu memiliki empati terhadap orang lain?
2.Apa kaitan antara empati, kasih dan Allah? Diskusikan!
Values:
Empati dimulai dan berasal dari hati yang penuh kasih Allah.
Kingdom Quotes:
Empati berkata: “Aku melihatmu, aku mendengarmu, sebab engkau berharga di hadapan Allah.”